(Penulis: Haris Nasution, yang diterbitkan di majalah Noor edisi Mei 2009)
Greg Martenson, seorang warga Negara Amerika yang pernah menetap di Pakistan menulis dalam bukunya berjudul Three Cups of Tea, bahwa jika sekali Anda telah diundang minum teh oleh seseorang, maka orang itu telah menghormati Anda sebagai tamu. Jika Anda diundang untuk kali kedua, maka status Anda telah meningkat menjadi teman. Dan pada ketiga kalinya, Anda sudah menjadi bagian dari keluarga mereka. Sungguh sangat mengesankan. Buku itu sendiri mencetak best seller dan memberi inspirasi kepada jutaan pembacanya di seluruh dunia. Bagaimana dengan kita di negeri ini?
Tak ada sedikitpun kesan istimewa dari sebuah undangan minum teh di rumah sesorang. Selalu saja menyelipkan suatu praduga tersendiri, yang kebanyakan praduga itu adalah negatif. “Ada keperluan apa dia mengundang saya datang ke rumahnya?” “Mau pinjam uang atau minta tolong dicarikan pekerjaankah?” Dan kalau yang diundang merasa tak memiliki kepentingan apapun dengan si pengundang, tentu saja dia akan mengabaikan undangan tersebut. Apalagi di tengah suasana yang sibuk…buk… yang apa-apa selalu membutuhkan perhitungan sendiri. Apa untung dan ruginya?
Sudah semakin jarang orang bersilaturahim dengan saling berkunjung. Lebih praktis janjian untuk bertemu di cafĂ© ataupun di pusat perbelanjaan. Rumah bukan lagi menjadi tempat untuk menjalin ikatan silaturahim. Ketika ada seorang sahabat yang sudah lama tak bertemu datang ke kota tempat kita tinggal, hal yang pertama kali terucap, “Ketemuan yuk…, tapi enaknya dimana ya…?” Jarang terdengar ajakan, “Ke rumahku yuk… Kita ngopi atau ngeteh bersama. sekalian kukenalkan dengan keluargaku.”
Privasi! Selalu itu yang menjadi apology. “Jangan di rumah deh, nanti kita nggak leluasa ngobrolnya.” atau “Wah, rumahku berantakan nih. Ketemuan di luar aja deh sekalian makan siang bareng…” Atau ajakan lain yang familiar, “Ketemuan di mal anu aja yuk. Lagi ada sale lo…”
Saya masih ingat bagaimana seringnya orang tua saya mengundang teman-temannya untuk makan siang di rumah. Kami, anak-anaknyalah yang paling senang, karena tentu makan siang pada hari itu akan lebih istimewa. Tapi ketika ayah mendapat masalah di tempatnya bekerja, tak satupun dari teman-teman yang sering diundangnya itu datang bersimpati. Padahal, sudah bercangkir-cangkir teh mereka minum di rumah kami. Begitupun, acara makan siang bersama dengan teman-temannya, tetap tak berhenti! Bagi ayah, menjamu tamu merupakan salah satu kebiasaan Rasulullah yang patut diteladani.
Kalau rumah kita sering dikunjungi orang, tentu kita tak akan memberi kesempatan rumah kita kotor dan berantakan. Kita akan bersemangat untuk membersihkan rumah dan aura rumah pun menjadi baik. Itu adalah ucapan yang sering saya dengar dari ibu saya. So simple.
Kemajuan teknologi selain mengikat silaturahim juga bisa merusaknya. Ketika sebuah keluarga bepergian, seringkali mereka bersama tapi tidak bersama. Si ayah berkonsentrasi menyetir, si ibu asyik ber-facebook dengan telepon genggam dan tersenyum-senyum sendiri. Sedangkan anak-anak khusyu’ dengan game boy. Sesekali terdengar teriakan mereka ketika berhasil mengalahkan lawan di game-nya tersebut. Lantas, ada dimana mereka sekarang? Apa gunanya mereka bepergian bersama? Mungkin kita perlu “mereparasi” bahkan bila perlu “merenovasi” apa makna silaturahim yang kita anut sekarang ini.
Suatu kali, kami sepakat mengadakan arisan keluarga di sebuah restoran. Uak, om, dan tante telah duduk dengan manis di salah satu sisi meja dengan cerita mereka tentang segala kegiatan yang mereka lakukan selama sepekan terakhir. Di satu sisi meja lainnya, beberapa sepupu yang kebetulan berprofesi sebagai arsitek tampak serius membahas proyek yang tengah mereka kerjakan. Di meja lainnya, sepupu-sepupu perempuan yang sangat peduli fashion terlibat perbincangan seru tentang model busana apa yang menjadi tren saat ini dan dimana mereka bisa mendapatkannya. Sementara yang lainnya dengan khidmat membuka fitur-fitur telepon genggam mereka untuk bermain game, facebook-an atau sekedar ber-sms ria.
Untunglah, seorang om tersadar dan kemudian berteriak, “Woiii, ada orang nggak? Kalau nggak ada, mending gue pulang nih…” Barulah semua pada “siuman” dan nyambung kembali. Padahal, di setiap meja telah tersaji bercangkir-cangkir teh dan bergelas-gelas jus. So what? Apa masih perlu lagi pembuktian bahwa sebenarnya tidak cukup tiga cangkir teh untuk membuat kita ngeh silaturahim….
SECANGKIR TEH VS SECAWAN CINTA
Ini bukan cerita yang baru terjadi. Salah seorang teman mengadu bahwa dia telah difitnah oleh teman kami yang lainnya. Dia dituduh menelikung sang teman yang ternyata juga tertarik pada gadis yang sama. Kami kemudian memutuskan mengundang teman tersebut untuk ngeteh bareng guna menyelesaikan persoalan tersebut agar mereka berteman lagi. Tahu apa yang terjadi? Undangan minum teh itu justru menjadi momen di mana hubungan pertemanan keduanya hancur berantakan. Merka bahkan masih tak saling sapa, meski kini sama-sama telah menikah dan bukan dengan gadis yang mereka perebutkan dulu.
Belum lama ini, teman yang menjadi caleg menemui saya dengan wajah yang sangat tak sedap dipandang. Dalam hati saya berujar, “Orang begini kok nekat mencalonkan diri…” Tapi ternyata apa yang saya pikirkan itu juga dipikirkan oleh para konstituennya. Teman saya itu kalah telak dengan hanya mengantongi 50 suara. Itu pun sudah jelas dari sumber yang tak jauh-jauh darinya. Yakni isteri, mertua, ipar, orangtua, kakak, adik dan kerabat lainnya yang bisa saja memilihnya karena terpaksa, kasihan atau maksud terselubung lainnya. Padahal untuk ambisinya itu dia telah mengorbankan segalanya, ya uang, rumah bahkan harga dirinya.
Kalau memang tujuannya untuk kemaslahatan umat kenapa dia jadi shock berat…? Dia bahkan tak menyentuh secangkir teh yang disuguhkan isteri saya padahal dia datang bertamu di rumah kami. Dia juga teman dan memiliki tali persaudaraan dari pihak ibu saya. Jadi, setuju kan kalau saya katakan tidak cukup dengan tiga cangkir teh untuk mengikat tali silaturahim di negeri ini. It’s not enough. Karena kita masih harus membutuhkan bercawan-cawan cinta yang tulus tanpa pamrih.
Selasa, 28 Desember 2010
Kamis, 23 Desember 2010
Rabu, 10 November 2010
Yang tak lagi sama
Tidak perlu berkeras meyakinkanku bahwa x akan selamanya x
Biar kulihat dan kurasakan saja sendiri
Kalau misalnya x yang kau katakan dulu menjadi y atau a atau apapun yang bukan x,
maka aku bersiap untuk tidak lagi mengandalkan ucapanmu.
Biar kulihat dan kurasakan saja sendiri
Kalau misalnya x yang kau katakan dulu menjadi y atau a atau apapun yang bukan x,
maka aku bersiap untuk tidak lagi mengandalkan ucapanmu.
Kamis, 23 September 2010
42 jam yang lalu.....
Suatu Siang Di Kota M
jalan menggelombang di bawah angin
berguguran daun-daun asam
barangkali ada yang masih akan kaukatakan padaku
sebelum kaututup kopormu
atau diamlah sementara burung-burung di atap rumah
mengibaskan terik kemarau
sekali waktu kita harus memilih kata-kata
dalam ruang hampa udara
aku pun menabikmu: selamat
dimana akhirnya kita ucapkan kalimat terbaik
sewaktu daun-daun diayunkan angin
sebelum kaututup kopormu
(Sapardi Djoko Damono)
jalan menggelombang di bawah angin
berguguran daun-daun asam
barangkali ada yang masih akan kaukatakan padaku
sebelum kaututup kopormu
atau diamlah sementara burung-burung di atap rumah
mengibaskan terik kemarau
sekali waktu kita harus memilih kata-kata
dalam ruang hampa udara
aku pun menabikmu: selamat
dimana akhirnya kita ucapkan kalimat terbaik
sewaktu daun-daun diayunkan angin
sebelum kaututup kopormu
(Sapardi Djoko Damono)
Senin, 13 September 2010
Hati
Hati tidak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh (Dee, Perahu Kertas; Kamu bukan baru saja tahu, tapi sedari dulu kamu sudah tahu, tinggalkan sesuatu yg terdapat keraguan di dalamnya)
Dan ini adalah rencana B' dan C' sebelum menuju Z, setelah kulupakan rencana B dan C : menyelesaikan semua urusan di Yogya, and then....., maen2 ke Bandung..., ^_^
Dan ini adalah rencana B' dan C' sebelum menuju Z, setelah kulupakan rencana B dan C : menyelesaikan semua urusan di Yogya, and then....., maen2 ke Bandung..., ^_^
Rabu, 01 September 2010
Perjuangan; Jam 15
Sms-sms yang masuk ke HP saya dari hari kemarin sampai hari ini kebanyakan mengandung unsur kata "Perjuangan"..., lebih tepatnya, intinya adalah : "Bagaimana hasil perjuangan hari ini / kmrn?".
Perjuangan yang bagi saya pribadi, dahsyat sekali. Tiga jam senilai enam juta lima ratus ribu rupiah. Dan kecemasan super mewarnai perjalanan tiga jam itu, disertai pemandangan yang relatif sama pada diri teman-teman yang sama-sama berjuang seperti saya.
Jam adalah hal yang paling sering saya lihat, bahkan sempat bernyanyi dalam hati "Tahanlaaaah wahai waktu...". Jam 15 sebentar lagiiiiiii.
& Finally......., sukseeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeees!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Doa saya dan doa orang-orang yang mendoakan saya...., sekali lagi...., dikabulkan Allah, karunia sangat luar biasa.
Ibu saya berkata di telepon : Ibu membayangkan, pasti cape sekali ya?
Kujawab: Hehe, iya.
Kalau ada sms-sms yang belum saya balas, maaf, telah menjadi korban perjuangan ini, tapi tenanglah, InsyaAllah saya mengerti mana sms yang mesti segera saya balas, dan mana yang msh bisa dipending, hehe.
Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada seseorang yang karenanya perjuangan saya bisa sempurna mencapai kesuksesan, yang mengatakan kepada saya "Kalau bukan kamu, sudah kutolak". Beliau adalah anak buahnya Mas Maman, fotocopian Nirwana,lembah UGM, yang sudah menolak job2 demi saya...., sekali lagi saya tegaskan, demi saya, ckckckck....., smoga Allah membalas segala kebaikanmu mas, ^_^.
Dan untuk mahasiswa-mahasiswa S2 dan S3 yang sudah mau di "ganggu" antrian bimbingannya, demi melihat saya memohon dan memohon, hehe. Terima kasih banyak, smoga tesis-tesis dan disertasi-disertasinya lancar semua, ^_^.
My Parents dengan doa-doanya yang luar biasa....., sms ibuku sangat menyegarkan sekali: "Fotocopi mahal gpp, yg penting kecapai"....., wow....., motor hebat bagiku, u mengeluarkan pundi2 diatas searusnya demi jam 15, hehe. Makasih ibuuuuu, ^_^
Sahabat-sahabat yang menyemangati selalu......, terima kasiiiiiiiiih
The last, Indah, Nanad, Ayuk, Mba Alif, Mba Arum. Di limit waktu, aku masih bersama Indah & Nanad, yang lain gimana ya hasilnya???? Semoga hasil yang terbaik bagi mereka yang tercapai.
Perjuangan yang bagi saya pribadi, dahsyat sekali. Tiga jam senilai enam juta lima ratus ribu rupiah. Dan kecemasan super mewarnai perjalanan tiga jam itu, disertai pemandangan yang relatif sama pada diri teman-teman yang sama-sama berjuang seperti saya.
Jam adalah hal yang paling sering saya lihat, bahkan sempat bernyanyi dalam hati "Tahanlaaaah wahai waktu...". Jam 15 sebentar lagiiiiiii.
& Finally......., sukseeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeees!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Doa saya dan doa orang-orang yang mendoakan saya...., sekali lagi...., dikabulkan Allah, karunia sangat luar biasa.
Ibu saya berkata di telepon : Ibu membayangkan, pasti cape sekali ya?
Kujawab: Hehe, iya.
Kalau ada sms-sms yang belum saya balas, maaf, telah menjadi korban perjuangan ini, tapi tenanglah, InsyaAllah saya mengerti mana sms yang mesti segera saya balas, dan mana yang msh bisa dipending, hehe.
Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada seseorang yang karenanya perjuangan saya bisa sempurna mencapai kesuksesan, yang mengatakan kepada saya "Kalau bukan kamu, sudah kutolak". Beliau adalah anak buahnya Mas Maman, fotocopian Nirwana,lembah UGM, yang sudah menolak job2 demi saya...., sekali lagi saya tegaskan, demi saya, ckckckck....., smoga Allah membalas segala kebaikanmu mas, ^_^.
Dan untuk mahasiswa-mahasiswa S2 dan S3 yang sudah mau di "ganggu" antrian bimbingannya, demi melihat saya memohon dan memohon, hehe. Terima kasih banyak, smoga tesis-tesis dan disertasi-disertasinya lancar semua, ^_^.
My Parents dengan doa-doanya yang luar biasa....., sms ibuku sangat menyegarkan sekali: "Fotocopi mahal gpp, yg penting kecapai"....., wow....., motor hebat bagiku, u mengeluarkan pundi2 diatas searusnya demi jam 15, hehe. Makasih ibuuuuu, ^_^
Sahabat-sahabat yang menyemangati selalu......, terima kasiiiiiiiiih
The last, Indah, Nanad, Ayuk, Mba Alif, Mba Arum. Di limit waktu, aku masih bersama Indah & Nanad, yang lain gimana ya hasilnya???? Semoga hasil yang terbaik bagi mereka yang tercapai.
Minggu, 29 Agustus 2010
Langganan:
Postingan (Atom)

