Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Juli 2010

Doa Bulan Juli

Saya tidak tahu doa siapa yang akan dikabulkan, maka ketika akan melewati satu fase (lagi) dalam hidup saya, alias seminar hasil penelitian tesis saya, saya menghubungi beberapa saudara, sahabat, dan teman u 'meminta' sumbangan doa.

Saya juga tidak tahu, doa siapa yang akan dikabulkan ketika saya menghadapi permasalahan yang telah menempatkan saya berada pada titik terendah manajemen emosi saya.

Hari ini saya melihat doa terbesar saya di bulan ini dikabulkan Allah, doa yang saya tahu, juga dipanjatkan oleh orang-orang terdekat saya.

Terima kasih Allah.., atas kemurahan Mu...., karunia Mu. Berkahilah mereka semua yang sudah mendoakan segala kebaikan untuk saya.

Sabtu, 26 Juni 2010

Kau

"Mengapa kau begitu hebat? Aku benci kita tak pernah bisa bicara"
(Film The Holiday)

Aku takjub mengetahui cara Allah menjaganya, dan itu alasan yang cukup bagiku berbangga untuknya.

Minggu, 06 Juni 2010

Sakitku, sakitnya siapa??

Ternyata begini ya...., penerimaan diri yang belum jua ku rasakan mampu membawaku ke dokter kemarin sore. Tragiiiiis...., bahkan u membaca dan membuka mata lebar2 saja aku tak sanggup, kepalaku seperti berputar.

Spesial thanks u Rakhma (dah nganterin ke dokter, dah nemenin tidur dan nonton james bond, hehe), Ely... (dah mbikinin aq teh dan ngambil jemuranku), Erin ...(yang ngomel2 di telepon, ha2).

Minggu, 17 Januari 2010

Me Time

“Saya” yang biasanya ada, menjadi “Aku”

Tepat 12 Januari kemarin, aku bertemu dengan seorang sahabat, yang selama ini jarang bisa kutemui. Sambil membuka merchandise, hadiah dari radio Swaragama, kami berbicara tentang hal-hal yang baru dialami beliau, berkaitan dengan progressnya… Sampai akhirnya tiba, beliau ‘menyapaku’, bertanya kabarku,:). Beliau menanyakan pertanyaan-pertanyaan simple…., tapi tidak cukup simple mungkin bagiku sampai aku tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya itu. Beliau berkata “Kamu boleh tidak menjawabnya, tapi kalau kamu mau berbagi, aku akan senang sekali”. Air mataku reflek mengalir…., terlalu deras alirannya sampai aku semakin tak sanggup untuk menjawab. Air mata itu benar-benar tak tahu diri, tumpah di sebuah tempat makan yang sangat ramai dengan puluhan orang. Terserah dengan siapapun yang mungkin bertanya-tanya “Ko mbaknya nangis?”, walau aku juga malu. Beliau berusaha menenangkan aku dengan menepuk-nepuk punggungku, dan mengelus tanganku…, tapi sentuhan itu membuatku semakin menangis deras.

Kukatakan pada beliau…, “Mba, bukan hanya mba yang tidak tahu progressku. Jangan dipikir cuma mba yang ga tau. Sehari-hari aku bersama Erin…, Erin juga ga tahu, aku ga pernah bercerita. Aini juga. Aku bisa berlama-lama dengannya tanpa menyentuh pembicaraan ke situ. Pipit juga. Aku menutup akses mereka untuk bertanya, sampai mereka tidak berani bertanya lagi. Aku santai include di dalam progress mereka, tanpa mereka tahu progressku. Mba sama dengan mereka, sama nggak tahunya tentang apa yang terjadi denganku”. Beliau bertanya “Kamu nyaman dengan keadaan seperti ini?”. Pertanyaan itu membuatku menangis lagi…, sambil terisak aku menjawab “Enggak”. Kali ini, beliau membiarkan tubuhku tanpa sentuhan darinya. Saat itu, aku hanya mengingat satu nama, aku ingin Erin ada disitu…, dan memelukku.

Beliau berkata…, “Pertemuan itu adalah pertanda, Allah mempertemukan kita sekarang….., InsyaAllah ada hikmahnya” (untuk yang satu ini, aku sedikit lupa kata-katanya). (Catatan, satu hari sebelum hari itu, aku juga bertemu beliau di warung makan lain, sampai surprise bisa bertemu). Kukatakan…, “Iya mba, ini latihan untukku kan, pada saatnya nanti, aku juga akan bercerita, aku malah pengin konferensi pers,:). Aku juga sudah berniat untuk menyelesaikan ini, aku sudah ‘tersadar’,:)”. “Apa yang membuatmu tersadar?”. Kukatakan hal yang membuatku tersadar bahwa aku, harus kembali. Suasana mulai tenang ketika aku berhasil melarang airmataku untuk keluar lagi. Dengan gaya khasnya, beliau bertanya hal-hal yang akhirnya dengan lancar aku jawab, dan aku sama sekali ga sadar bahwa aku telah terpancing, “menjawab” sedikit demi sedikit…., sampai akhirnya aku tersadar, dan aku nggak mau ada “pertanyaan-pertanyaan” lagi. Beliau meminta maaf, dan aku terharu dengan kata-kata beliau.. “Maaf…, aku bertanya, karena aku peduli”.

Mba Monika sayang, terima kasih ya…., memang diperlukan seorang sahabat yang mempunyai keberanian untuk “berbicara” padaku untuk membuatku semakin tersadar. Kalau untuk pengumpulan data dengan metode wawancara, mbakku yang cerdas ini memang jagonya, stimulus pertanyaannya tak menyadarkan, dan full empati,:), salut-salut.

Geng Soleha-ku, Mba Monika, Erin, Aini, pipit, maafkan aku ya….., yang "menghilang" dalam 6 bulan terakhir ini…., maafkan untuk ketidakadaanku dalam progress pencapaian prestasi kalian. Erin…..,, yang tak pernah bertanya padaku, karena kamu paling tahu….., aku tak perlu ditanya, karena aku akan bicara banyak kalau aku mau bicara. Aku sempat berpikir, kasihan kamu nduk….., aku, yang sehari-hari bersamamu, bisa “diam” dan menjalani hidup santai tanpa seperti tertekan. Kamu pernah bilang kan “Kamu berubah”….., iya Erin, kemarin, aku memang berubah, terimakasih ya untuk selalu menemani aku…., aku merasa segalanya akan menjadi lebih baik ketika kutahu kamu ada disampingku. Aini, maafkan aku untuk jarangnya aku “menyapamu”, maafkan aku….., aku berpikir bahwasanya kamu mungkin menganggapku tidak peduli padamu. Nggak honey…., aku hanya sedang ingin “sendiri”, karena aku nggak mau kamu melihat sisi lemahku. Aku cape Ai untuk selalu “baik-baik” saja di depanmu, seolah aku adalah seorang putri yang ceria, padahal aku merasa hidupku sedang tidak ‘ceria’ dan aku ga mau kamu, atau siapapun mengintervensi aku dalam rentang 6 bulan kemarin, belum saatnya menurutku…, maafkan aku ya. Terima kasih untuk selalu bisa kuajak makan sesuatu yang baru saat tak ada satupun makanan yang sudah kukenal yang mau aku makan, terima kasih untuk sms-sms “Mau kutemani?” di saat kau tahu “hariku” menjadi kelabu. Pipit….., maafkan aku juga ya….., yang mungkin ga bisa “menemani” setiap tahap progressmu kemarin. Maaf untuk tak ada cerita yang bisa kubagi saat-saat kemarin. Akhirnya, setelah kita bertemu, ternyata……, buanyak banget ya kejadian-kejadian yang sempat terlewatkan untuk kita bagi di hari kemarin,:). Terima kasih untuk cerita “time is money” mu,:). Mira…., dari yang awal kita selalu bersama dalam mengejar target, sampai akhirnya kamu sukses berjuang dan tiba-tiba aku menghilang…., maafkan aku ya…., maaf untuk melewatkan cerita hari-harimu melewati semua prosesmu, maaf untuk kemarin, yang tak ada cerita yang sanggup aku bagi padamu, terima kasih untuk supportmu yang sangat luar biasa untukku, terima kasih banyak. Anik…., aku selalu teringat kata-katamu sebelum kamu wisuda jeng…., “Seberapa besar kita bertanggungjawab pada mimpi kita”. Anik sayang….., makasih ya untuk supportnya…., untuk selalu meyakinkan aku bahwa segalanya mungkin, segalanya bisa. Moko…., terima kasih untuk pemakluman perubahanku…., maafkan untuk segala sharing yang tak pernah terbalaskan, aku merasa aku sedang “istirahat”,:). Rakhma…., maaf untuk seringnya mengusirmu saat aku sedang berada di depan komputer, maaf untuk menolakmu mengerjakan aktivitas belajar bersama, maaf untuk tidak adanya penjelasan memuaskan tentang “kenapa aku”. Terima kasih sist, untuk ceritamu tentang “orang tua”, yang mengingatkan aku akan betapa cintanya orang tuaku yang telah membesarkan aku sampai saat ini.

Adit, si ngganteng yang hobby nge-game,:), ingat nggak, suatu malam dimana kamu meninggalkan aku dengan suatu ancaman. Kamu sangat tahu bahwa aku mudah sekali untuk menangis, karena aku perasa. Tapi malam itu, aku sama sekali nggak menangis. Kenapa aku nggak menangis? Karena aku tahu, aku tidak seharusnya “diam”. Aku merasa sangat bersalah padamu. Tapi kutahu, kamu juga cukup merasa bersalah telah mengancamku, sampai keesokan harinya, kamu mengajakku bertemu. Dan untuk pertama kalinya, kamu mengirim sebuah sms yang membuatku terharu…”Seorang Adit bisa menulis sms seperti itu”,:). Lalu dalam pertemuan itu kau utarakan…, “Aku ingin menjadi bagian dari kesuksesanmu, tidak seharusnya aku bersikap tidak mau tahu…., aku harusnya tetap mendampingi kamu, aku ingat ketika kamu nggak suka aku nyebut cuk-cuk-cuk dan kamu sering melarangku tapi gagal, kamu bertanya—Apa gunanya aku Adit?--, sama seperti aku, aku pun ingin menjadi bagian dari kesuksesanmu”. Dit…, maafkan aku untuk ketertutupanku kemarin ya….., terimakasih untuk supportnya, doamu, doa yourparent…, sms-sms dan telepon darimu yang selalu meyakinkan aku bahwa kau tetap ada walau kau telah pergi.

Ya….., aku terlalu tahu bahwa kemarin….., aku sedang berada di kondisi yang terlalu sulit untuk bisa kubagi dengan siapapun….., siapapun. Maafkan aku. Tapi sekarang….., tepatnya setelah empat hari sebelum hari ulang tahunku, aku membaca disertasi milik dosen pembimbing tesisku, dikutip dari Bandura, “Setelah seseorang memiliki standar personal, maka jarak atau perbedaan antara kinerja dan standar yang dimiliki, akan mengaktifkan penilaian diri, yang kemudian mempengaruhi perilaku selanjutnya”, aku melakukan proses penilaian dan evaluasi diri. Itulah “saat” aku memutuskan bahwa aku harus kembali,:). Terima kasih untuk Bowo, orang pertama yang kuhubungi setelah proses penilaian dan evaluasi diri ini. “Ngk papa, kita harus memaafkan diri kita”, begitu katamu. Ya bro, terima kasih untuk doa-doamu, terimakasih untuk mengajariku membuat hari-hari ke depan bisa menjadi hari-hari yang indah. Akhirnya aku tahu, bahwa sampai detik ini, aku masih bisa “menemuimu” untuk bicara,:), makasih ya.

Bapak dan ibuku…., 2009 membuatku bisa semakin merasa bahwa selain sebagai orang tua, beliau berdua adalah sahabat terbaik bagiku, yang selalu ada ketika aku begitu bahagia…, maupun ketika aku menangis sedih. Terima kasih Pak, Bu…., maaf belum bisa membanggakan dan membahagiakan sepenuhnya,:).

Bu Yanti, ketua perpustakaan Psi, yang sudah menyambut “kedatanganku” lagi dan sibuk bertanya kenapa aku sekarang jadi agak gemuk (stress ya? ato bahagia? ato kenapa? Ko naiknya bisa 7 kilo?)..,:), terima kasih Bu…., terima kasih. Mas Maman, pemilik fotokopian langganannya anak-anak Psi, yang berkata “Ayo mba Ridha, fotokopinya digiatkan lagi”. Fasilitas-fasilitas umum lainnya yang terkena imbas, “kehilangan satu pelanggannya” selama bulan-bulan kemarin yang kembali lagi kudatangi, dan menyambutku dengan pertanyaan-pertanyaan : “Kemana aja?”, “Wah…, mba-nya…., lama banget ngga ke sini, saya pikir udah lulus”, “Mba pulang ya?”, “Ko sekarang jadi seperti makmur ya”, “Mba…, nggak pernah kelihatan…., mba makin gemuk ya?”…, dll…., terima kasih.

Untuk siapa saja sahabat-sahabat dekatku….., teman-temanku…., yang sudah mendoakan, dari dekat…, dari jauh…., terima kasih, mungkin kalian tidak tahu bahwa 6 bulan terakhir kemarin aku menghilang …, hehehe…., kan beberapa hal ada yang sulit untuk tersajikan dalam bentuk cerita, :). Anggap saja 6 bulan kemarin aku sedang bertamasya….., dan sekarang sudah pulang menggunakan pesawat canggih nan bisa dipercaya, pesawat itu berkata: Sudah kuantar Ridha pulang, dia berjanji untuk segera menyelesaikan tugas yang menjadi kewajibannya,:).


Selasa, 15 Desember 2009

Kujanjikan Aku Ada

“Xxx, jangan tinggalin aq ya”, begitu sms malam2 yang saya kirimkan untuk seorang sahabat nun jauh dari tempat saya berada. Sms balesannya: “Gedubrak..sms apa ini? ono opo tho? koq melankolis gini,:), lonely ni?”. Saya sudah menduga bahwa sahabat saya akan sekaget itu membaca sms saya. Sederhana saja, terbiasa hahahihi dalam bahasa sms memungkinkan kekagetan dalam bahasa sms yang sangat jauh berbeda dari biasanya.

Saya katakan padanya bahwa saya merasa ditinggalkan oleh orang-orang yang biasanya selalu ‘ada’ dalam setiap nafas hidup saya. Lalu saya katakan bahwa ‘kenapa aq jadi pamrih gini’, dengan membahas 24 jam saya selalu siap untuk ‘ada’ bagi mereka, tapi sekarang, ketika saya membutuhkan mereka, ‘ada’ kah mereka untuk saya? Di mana mereka? Jahatnya saya, sampai saya berpikir, entah pagi dini hari, entah malam2 sekali, entah ketika hanya sedikit ruang yang saya miliki untuk ‘melayani’, akan saya usahakan untuk ‘ada’, saat itu juga, minimal dengan membalas sms atau menerima panggilan telepon. Kenapa saat itu juga? Karena saya memposisikan diri saya pada posisi mereka, yang sedang “sangat membutuhkan”. Bagi saya, tidak ‘saat itu juga’, terlambat sudah…

Beberapa hal yang masih sangat jelas terekam dalam ingatan saya ketika saya ‘terlambat ada’, diantaranya adalah:

*** Seorang teman yang meminta bertemu saya tepat di hari setelah ujian tesisnya selesai dilaksanakan. Dengan bahasa yang cukup diplomatis menghibur, saya pastikan bahwa ‘semuanya baik2 aja kan’, Karena jawabannya bernuansa ‘baik’, maka saya tidak menyanggupi ketemuan itu. Hampir satu minggu teman saya itu terus mendesak saya untuk bertemu, tapi saya selalu menolak. Saya punya alasan khusus yang tentu saja tidak saya katakan padanya kenapa saya menolak bertemu dengannya, yang jelas, itu saya lakukan untuk kebaikan saya,:). Lagipula, mengingat sosoknya yang humoris, sangat suka bercanda, saya merasa mendapat jaminan bahwa, ‘dia akan baik-baik saja’ menerima penolakan saya,:). Tapi tepat 6 hari setelah itu, saya memutuskan untuk menerima ajakan ketemuan, dalam sebuah acara dinner, merayakan kelulusannya. Full senyum, full ketawa, itu yang membuat suasana selalu lebih hidup ketika berbicara dengannya, selain satu hal, saya tertegun mendengar jawaban dia ketika saya meminta maaf karena selalu menolak ketemuan. Jawabannya simple, kurang lebih seperti ini “Gapapa Ridha…, hanya saja, aq merasa aku sedang ingin berbicara dengan seseorang setelah aku melewati suatu proses di hari itu”. Sontak saya merasa sangat sangat bersalah sekali. Saya membayangkan, seandainya saya berada di posisinya, saya pasti akan sangat kecewa ketika saya membutuhkan teman bicara, orang yang saya minta sebagai teman bicara saya menolak untuk menemani saya berbicara dengan alasan yang sangat ga jelas. Berkali-kali saya meminta maaf sampai akhirnya ia memegang tangan saya dan menatap mata saya dengan sangat serius untuk meyakinkan saya dengan mengatakan “Nggak papa Ridha, nggak papa”. kemudian saya mengatakan padanya “Aq janji, aq nggak akan melakukan hal itu lagi, kalau waktu bisa diulang, aku akan ada menemani kamu”.

*** Sahabat saya menelepon saya, bertanya: “Kamu ngapain hari ini? Ada di kos ga? Aku ke kosmu ya….”. Aku tahu, sahabat saya ini pasti ingin ‘bercerita’, tapi mengingat agenda-agenda saya yang sepertinya ‘akan sedikit berantakan’ kalau dia ke kos saya, saya menolak untuk bertemu hari itu juga. saya janjikan “Hari xxx aja ya, biar aku yang ke kosmu”. Menurut saya, kalau saya “sebagai tamu” di kos orang, saya bisa mengatur akan berapa lama saya bertamu, tapi kalau saya yang kedapetan tamu, akan sangat ga enak mengusirnya kalau agenda lain sudah menunggu, hehe. Ok, beberapa hari setelahnya, saat bertemu, benar saja dia bercerita tentang hal2 yang cukup serius yang sedang ia alami dalam hidupnya, sampai ada pelukan menenangkan karena ada air mata,:). Menunggu berhari-hari baginya untuk akhirnya bisa menumpahkan ceritanya ke saya merupakan suatu hal yang saya duga “sangat tidak enak”. harusnya, air mata itu sudah keluar hari-hari kemarin, harusnya, sejak hari kemarin dia merasa baikan karena sudah mendengar satu dua kalimat dari saya yang membuatnya terinspirasi untuk melakukan sesuatu.

Akhirnya saya introspeksi, apa yang salah ya dari keadaan ini? Kenapa saya merasa ditinggalkan? Lalu saya tahu jawabannya. Saya merupakan tipe orang yang sangat tidak ingin merepotkan orang lain. Saya tidak akan berani “menelepon” seseorang di malam-malam yang larut atau dini hari ketika kebanyakan orang masih tidur, tanpa konfirmasi sebelumnya bahwa saya mau menelepon. Saya tidak berani, saya merasa tidak enak, takut mengganggu. walaupun untuk sahabat2 dekat, saya memberikan toleransi tak berbatas untuk 24 jam menghubungi saya. Lalu sekarang, kalau saya tidak berani untuk “meminta”, untuk “datang” ke mereka, bagaimana mereka tahu bahwa saya sedang membutuhkan mereka? Mengandalkan kekuatan pikiran dan perasaan untuk menyampaikan pesan? Wah, kalau untuk yang satu ini, sudah lumayan lama saya tidak mengasah kepekaan saya,:). Akhirnya saya mengubah telepon menjadi sms, karena saya pikir mereka yang sedang tidur pun bisa tidak terganggu karena mungkin tidak mendengar bunyi sms datang, dan saya berharap sms akan segera dibalas secepatnya setelah dibaca. Tapi saya memang tidak mempunyai kekuatan untuk mengendalikan orang lain, seperti meminta orang lain untuk segera membalas sms saya misalnya,:). Sama seperti ketika saya menelepon orang, saya tidak bisa mengendalikan orang itu untuk sepenuh hati mendengarkan cerita saya, walau selama ini saya merasa sudah cukup mendengarkan dengan sepenuh hati cerita orang-orang yang berbagi pada saya,:). Saya sama sekali tidak dapat menuntut orang lain melakukan hal seperti yang saya lakukan. Karena tidak mau ‘kecewa’ karena merasa tidak didengarkan sepenuh hati’, saya memilih untuk mulai tidak berbagi dengan siapapun, termasuk orang-orang terdekat layaknya kekasih sekalipun. Ah ya…, pengalaman buruk membuat saya tidak mau menyentuh ranah yang bisa membuat saya kecewa (lagi),:).

Tapi bagaimanapun juga, saya tetap ingin mengucapkan terima kasih untuk siapa saja yang sudah pernah menemani saya ‘bicara’ hingga saat ini, maafkan segala hal tidak mengenakkan yang datangnya dari saya.