Untuk bahagia,
tak perlu banyak hal;
ada dalam dirimu sendiri,
dalam caramu berpikir.
(Marcus Aurelius)
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 14 Mei 2011
Selasa, 28 Desember 2010
Three Cups of Tea
(Penulis: Haris Nasution, yang diterbitkan di majalah Noor edisi Mei 2009)
Greg Martenson, seorang warga Negara Amerika yang pernah menetap di Pakistan menulis dalam bukunya berjudul Three Cups of Tea, bahwa jika sekali Anda telah diundang minum teh oleh seseorang, maka orang itu telah menghormati Anda sebagai tamu. Jika Anda diundang untuk kali kedua, maka status Anda telah meningkat menjadi teman. Dan pada ketiga kalinya, Anda sudah menjadi bagian dari keluarga mereka. Sungguh sangat mengesankan. Buku itu sendiri mencetak best seller dan memberi inspirasi kepada jutaan pembacanya di seluruh dunia. Bagaimana dengan kita di negeri ini?
Tak ada sedikitpun kesan istimewa dari sebuah undangan minum teh di rumah sesorang. Selalu saja menyelipkan suatu praduga tersendiri, yang kebanyakan praduga itu adalah negatif. “Ada keperluan apa dia mengundang saya datang ke rumahnya?” “Mau pinjam uang atau minta tolong dicarikan pekerjaankah?” Dan kalau yang diundang merasa tak memiliki kepentingan apapun dengan si pengundang, tentu saja dia akan mengabaikan undangan tersebut. Apalagi di tengah suasana yang sibuk…buk… yang apa-apa selalu membutuhkan perhitungan sendiri. Apa untung dan ruginya?
Sudah semakin jarang orang bersilaturahim dengan saling berkunjung. Lebih praktis janjian untuk bertemu di cafĂ© ataupun di pusat perbelanjaan. Rumah bukan lagi menjadi tempat untuk menjalin ikatan silaturahim. Ketika ada seorang sahabat yang sudah lama tak bertemu datang ke kota tempat kita tinggal, hal yang pertama kali terucap, “Ketemuan yuk…, tapi enaknya dimana ya…?” Jarang terdengar ajakan, “Ke rumahku yuk… Kita ngopi atau ngeteh bersama. sekalian kukenalkan dengan keluargaku.”
Privasi! Selalu itu yang menjadi apology. “Jangan di rumah deh, nanti kita nggak leluasa ngobrolnya.” atau “Wah, rumahku berantakan nih. Ketemuan di luar aja deh sekalian makan siang bareng…” Atau ajakan lain yang familiar, “Ketemuan di mal anu aja yuk. Lagi ada sale lo…”
Saya masih ingat bagaimana seringnya orang tua saya mengundang teman-temannya untuk makan siang di rumah. Kami, anak-anaknyalah yang paling senang, karena tentu makan siang pada hari itu akan lebih istimewa. Tapi ketika ayah mendapat masalah di tempatnya bekerja, tak satupun dari teman-teman yang sering diundangnya itu datang bersimpati. Padahal, sudah bercangkir-cangkir teh mereka minum di rumah kami. Begitupun, acara makan siang bersama dengan teman-temannya, tetap tak berhenti! Bagi ayah, menjamu tamu merupakan salah satu kebiasaan Rasulullah yang patut diteladani.
Kalau rumah kita sering dikunjungi orang, tentu kita tak akan memberi kesempatan rumah kita kotor dan berantakan. Kita akan bersemangat untuk membersihkan rumah dan aura rumah pun menjadi baik. Itu adalah ucapan yang sering saya dengar dari ibu saya. So simple.
Kemajuan teknologi selain mengikat silaturahim juga bisa merusaknya. Ketika sebuah keluarga bepergian, seringkali mereka bersama tapi tidak bersama. Si ayah berkonsentrasi menyetir, si ibu asyik ber-facebook dengan telepon genggam dan tersenyum-senyum sendiri. Sedangkan anak-anak khusyu’ dengan game boy. Sesekali terdengar teriakan mereka ketika berhasil mengalahkan lawan di game-nya tersebut. Lantas, ada dimana mereka sekarang? Apa gunanya mereka bepergian bersama? Mungkin kita perlu “mereparasi” bahkan bila perlu “merenovasi” apa makna silaturahim yang kita anut sekarang ini.
Suatu kali, kami sepakat mengadakan arisan keluarga di sebuah restoran. Uak, om, dan tante telah duduk dengan manis di salah satu sisi meja dengan cerita mereka tentang segala kegiatan yang mereka lakukan selama sepekan terakhir. Di satu sisi meja lainnya, beberapa sepupu yang kebetulan berprofesi sebagai arsitek tampak serius membahas proyek yang tengah mereka kerjakan. Di meja lainnya, sepupu-sepupu perempuan yang sangat peduli fashion terlibat perbincangan seru tentang model busana apa yang menjadi tren saat ini dan dimana mereka bisa mendapatkannya. Sementara yang lainnya dengan khidmat membuka fitur-fitur telepon genggam mereka untuk bermain game, facebook-an atau sekedar ber-sms ria.
Untunglah, seorang om tersadar dan kemudian berteriak, “Woiii, ada orang nggak? Kalau nggak ada, mending gue pulang nih…” Barulah semua pada “siuman” dan nyambung kembali. Padahal, di setiap meja telah tersaji bercangkir-cangkir teh dan bergelas-gelas jus. So what? Apa masih perlu lagi pembuktian bahwa sebenarnya tidak cukup tiga cangkir teh untuk membuat kita ngeh silaturahim….
SECANGKIR TEH VS SECAWAN CINTA
Ini bukan cerita yang baru terjadi. Salah seorang teman mengadu bahwa dia telah difitnah oleh teman kami yang lainnya. Dia dituduh menelikung sang teman yang ternyata juga tertarik pada gadis yang sama. Kami kemudian memutuskan mengundang teman tersebut untuk ngeteh bareng guna menyelesaikan persoalan tersebut agar mereka berteman lagi. Tahu apa yang terjadi? Undangan minum teh itu justru menjadi momen di mana hubungan pertemanan keduanya hancur berantakan. Merka bahkan masih tak saling sapa, meski kini sama-sama telah menikah dan bukan dengan gadis yang mereka perebutkan dulu.
Belum lama ini, teman yang menjadi caleg menemui saya dengan wajah yang sangat tak sedap dipandang. Dalam hati saya berujar, “Orang begini kok nekat mencalonkan diri…” Tapi ternyata apa yang saya pikirkan itu juga dipikirkan oleh para konstituennya. Teman saya itu kalah telak dengan hanya mengantongi 50 suara. Itu pun sudah jelas dari sumber yang tak jauh-jauh darinya. Yakni isteri, mertua, ipar, orangtua, kakak, adik dan kerabat lainnya yang bisa saja memilihnya karena terpaksa, kasihan atau maksud terselubung lainnya. Padahal untuk ambisinya itu dia telah mengorbankan segalanya, ya uang, rumah bahkan harga dirinya.
Kalau memang tujuannya untuk kemaslahatan umat kenapa dia jadi shock berat…? Dia bahkan tak menyentuh secangkir teh yang disuguhkan isteri saya padahal dia datang bertamu di rumah kami. Dia juga teman dan memiliki tali persaudaraan dari pihak ibu saya. Jadi, setuju kan kalau saya katakan tidak cukup dengan tiga cangkir teh untuk mengikat tali silaturahim di negeri ini. It’s not enough. Karena kita masih harus membutuhkan bercawan-cawan cinta yang tulus tanpa pamrih.
Greg Martenson, seorang warga Negara Amerika yang pernah menetap di Pakistan menulis dalam bukunya berjudul Three Cups of Tea, bahwa jika sekali Anda telah diundang minum teh oleh seseorang, maka orang itu telah menghormati Anda sebagai tamu. Jika Anda diundang untuk kali kedua, maka status Anda telah meningkat menjadi teman. Dan pada ketiga kalinya, Anda sudah menjadi bagian dari keluarga mereka. Sungguh sangat mengesankan. Buku itu sendiri mencetak best seller dan memberi inspirasi kepada jutaan pembacanya di seluruh dunia. Bagaimana dengan kita di negeri ini?
Tak ada sedikitpun kesan istimewa dari sebuah undangan minum teh di rumah sesorang. Selalu saja menyelipkan suatu praduga tersendiri, yang kebanyakan praduga itu adalah negatif. “Ada keperluan apa dia mengundang saya datang ke rumahnya?” “Mau pinjam uang atau minta tolong dicarikan pekerjaankah?” Dan kalau yang diundang merasa tak memiliki kepentingan apapun dengan si pengundang, tentu saja dia akan mengabaikan undangan tersebut. Apalagi di tengah suasana yang sibuk…buk… yang apa-apa selalu membutuhkan perhitungan sendiri. Apa untung dan ruginya?
Sudah semakin jarang orang bersilaturahim dengan saling berkunjung. Lebih praktis janjian untuk bertemu di cafĂ© ataupun di pusat perbelanjaan. Rumah bukan lagi menjadi tempat untuk menjalin ikatan silaturahim. Ketika ada seorang sahabat yang sudah lama tak bertemu datang ke kota tempat kita tinggal, hal yang pertama kali terucap, “Ketemuan yuk…, tapi enaknya dimana ya…?” Jarang terdengar ajakan, “Ke rumahku yuk… Kita ngopi atau ngeteh bersama. sekalian kukenalkan dengan keluargaku.”
Privasi! Selalu itu yang menjadi apology. “Jangan di rumah deh, nanti kita nggak leluasa ngobrolnya.” atau “Wah, rumahku berantakan nih. Ketemuan di luar aja deh sekalian makan siang bareng…” Atau ajakan lain yang familiar, “Ketemuan di mal anu aja yuk. Lagi ada sale lo…”
Saya masih ingat bagaimana seringnya orang tua saya mengundang teman-temannya untuk makan siang di rumah. Kami, anak-anaknyalah yang paling senang, karena tentu makan siang pada hari itu akan lebih istimewa. Tapi ketika ayah mendapat masalah di tempatnya bekerja, tak satupun dari teman-teman yang sering diundangnya itu datang bersimpati. Padahal, sudah bercangkir-cangkir teh mereka minum di rumah kami. Begitupun, acara makan siang bersama dengan teman-temannya, tetap tak berhenti! Bagi ayah, menjamu tamu merupakan salah satu kebiasaan Rasulullah yang patut diteladani.
Kalau rumah kita sering dikunjungi orang, tentu kita tak akan memberi kesempatan rumah kita kotor dan berantakan. Kita akan bersemangat untuk membersihkan rumah dan aura rumah pun menjadi baik. Itu adalah ucapan yang sering saya dengar dari ibu saya. So simple.
Kemajuan teknologi selain mengikat silaturahim juga bisa merusaknya. Ketika sebuah keluarga bepergian, seringkali mereka bersama tapi tidak bersama. Si ayah berkonsentrasi menyetir, si ibu asyik ber-facebook dengan telepon genggam dan tersenyum-senyum sendiri. Sedangkan anak-anak khusyu’ dengan game boy. Sesekali terdengar teriakan mereka ketika berhasil mengalahkan lawan di game-nya tersebut. Lantas, ada dimana mereka sekarang? Apa gunanya mereka bepergian bersama? Mungkin kita perlu “mereparasi” bahkan bila perlu “merenovasi” apa makna silaturahim yang kita anut sekarang ini.
Suatu kali, kami sepakat mengadakan arisan keluarga di sebuah restoran. Uak, om, dan tante telah duduk dengan manis di salah satu sisi meja dengan cerita mereka tentang segala kegiatan yang mereka lakukan selama sepekan terakhir. Di satu sisi meja lainnya, beberapa sepupu yang kebetulan berprofesi sebagai arsitek tampak serius membahas proyek yang tengah mereka kerjakan. Di meja lainnya, sepupu-sepupu perempuan yang sangat peduli fashion terlibat perbincangan seru tentang model busana apa yang menjadi tren saat ini dan dimana mereka bisa mendapatkannya. Sementara yang lainnya dengan khidmat membuka fitur-fitur telepon genggam mereka untuk bermain game, facebook-an atau sekedar ber-sms ria.
Untunglah, seorang om tersadar dan kemudian berteriak, “Woiii, ada orang nggak? Kalau nggak ada, mending gue pulang nih…” Barulah semua pada “siuman” dan nyambung kembali. Padahal, di setiap meja telah tersaji bercangkir-cangkir teh dan bergelas-gelas jus. So what? Apa masih perlu lagi pembuktian bahwa sebenarnya tidak cukup tiga cangkir teh untuk membuat kita ngeh silaturahim….
SECANGKIR TEH VS SECAWAN CINTA
Ini bukan cerita yang baru terjadi. Salah seorang teman mengadu bahwa dia telah difitnah oleh teman kami yang lainnya. Dia dituduh menelikung sang teman yang ternyata juga tertarik pada gadis yang sama. Kami kemudian memutuskan mengundang teman tersebut untuk ngeteh bareng guna menyelesaikan persoalan tersebut agar mereka berteman lagi. Tahu apa yang terjadi? Undangan minum teh itu justru menjadi momen di mana hubungan pertemanan keduanya hancur berantakan. Merka bahkan masih tak saling sapa, meski kini sama-sama telah menikah dan bukan dengan gadis yang mereka perebutkan dulu.
Belum lama ini, teman yang menjadi caleg menemui saya dengan wajah yang sangat tak sedap dipandang. Dalam hati saya berujar, “Orang begini kok nekat mencalonkan diri…” Tapi ternyata apa yang saya pikirkan itu juga dipikirkan oleh para konstituennya. Teman saya itu kalah telak dengan hanya mengantongi 50 suara. Itu pun sudah jelas dari sumber yang tak jauh-jauh darinya. Yakni isteri, mertua, ipar, orangtua, kakak, adik dan kerabat lainnya yang bisa saja memilihnya karena terpaksa, kasihan atau maksud terselubung lainnya. Padahal untuk ambisinya itu dia telah mengorbankan segalanya, ya uang, rumah bahkan harga dirinya.
Kalau memang tujuannya untuk kemaslahatan umat kenapa dia jadi shock berat…? Dia bahkan tak menyentuh secangkir teh yang disuguhkan isteri saya padahal dia datang bertamu di rumah kami. Dia juga teman dan memiliki tali persaudaraan dari pihak ibu saya. Jadi, setuju kan kalau saya katakan tidak cukup dengan tiga cangkir teh untuk mengikat tali silaturahim di negeri ini. It’s not enough. Karena kita masih harus membutuhkan bercawan-cawan cinta yang tulus tanpa pamrih.
Minggu, 07 Maret 2010
Penilaian
Saya tuliskan dulu sebuah cerita sebagai pengantar tulisan saya, cerita yang dikirimkan oleh seorang sahabat saya—Pipit--- jazakilah sist,:).
Alkisah ada seorang ayah dan anak sedang melewati perjalanan jauh sambil menuntun onta yang terlihat beberapa barang diletakkan di atas onta tersebut. Sampai mereka berpapasan dengan orang pertama dan berkata “Dasar bodoh kalian, onta yang kuat dan kekar itu tidak dinaiki”. Sang ayah kaget dan menyuruh anak untuk naik ke onta tersebut. Kemudian mereka berpapasan dengan orang kedua dan berkata “Emang anak tidak tau diri. Masak ayahnya dibiarkan berjalan menuntun onta yang dinaiki anaknya!”. Sang anak kaget kemudian mempersilahkan ayahnya naik onta. Kemudian mereka berpapasan dengan orang ketiga dan berkata “Wah tega ya, masak anak yang belum besar disuruh menuntun onta!”. Sang ayah kaget kemudian mengajak anaknya untuk naik onta bersama. Hingga mereka bertemu orang keempat dan berkata “Dasar manusia tidak berperikehewanan! Onta kok dinaiki dua orang dan barang, Kasihan!”. Kemudian ayah berkata “Anakku, memang ketika kita mengharap nilai dari manusia, maka akan seperti ini….tidak jelas….Semua salah. Maka biarlah Allah yang menilai kita”.
Biarlah Allah yang menilai kita, nice word.
Sebulan kemarin, saya bertemu secara tidak sengaja dengan seorang teman lama. Sebelumnya lama sekali kami tidak bertemu, perlu waktu yang lama untuk dapat mengenali dengan jelas bahwa yang ada di hadapan saya adalah teman saya (secara fisik banyak yang berubah). Berbicara-berbicara-berbicara, sampai akhirnya dia bertanya ke saya: “ Sebenarnya masuk mapro itu gampang ga si? Apa anak UGM dimudahkan? Ko si A bisa ketrima? Kayaknya kupikir dia biasa aja”. Saya tersentak…., hmmm, ni anak dah mulai melakukan penilaian ni. Kujawab, “Eits, kamu ga bisa menilai kayak gitu, banyak asesmen yang digunakan untuk bisa lolos, anak UGM juga ada yang ga lolos. Kamu ga bisa menilai orang dengan segitu gampangnya”. Teman saya mulai kelihatan salah tingkah melihat nada suara saya meninggi dan gesture saya menunjukkan ketidaksukaan atas apa yang dia katakan. Teman saya: “Maaf, maaf, ya bukan maksudku merendahkan dia…, tapi kalo kulihat misalnya dibanding seorang B gitu…, maaf lo…., maaf ya”. (Saya lihat kayaknya teman saya itu menyesal banget ngomong gitu ke saya). Kupikir, seorang B yang disebut oleh teman saya itu memang seorang yang cukup familiar krn kecerdasan dan keaktifannya di jaman S1, tapi…, kupikir juga kita ga bisa mbeda-mbedain dengan gampangnya orang-orang. Banyak orang yang tidak terlalu kelihatan menonjol ketika kuliah, tetapi sebenarnya kalau mengenal lebih dalam, ternyata anaknya cukup cerdas. Dan yang dulu adalah dulu, sekarang adalah sekarang, bukankah setiap manusia biasanya melakukan proses pembelajaran terus-menerus? Masalahnya ga semua orang bisa mengenal satu-persatu kapasitas teman-temannya sendiri. Itu yang saya sesalkan kenapa teman saya bisa secara gamblang berkata seperti itu kepada orang lain, dalam hal ini saya, yang juga bukan teman dekatnya, ko dia berani menilai seperti itu. Saya yakin dia ga begitu mengenal A. Dia bahkan tidak tahu apakah saya dekat dengan A atau tidak,:).
Setelah berpisah, saya langsung membuka file ingatan saya tentang teman saya itu. Ah ya…, beberapa tahun yang lalu, saya pernah melakukan penilaian sederhana tentang dia. Tapi penilaian itu saya simpan sendiri. Mudah bagi saya sebenarnya untuk menyampaikan penilaian saya itu kepada orang lain, sayangnya…, saya tidak mau penilaian saya itu memunculkan berbagai opini yang berakibat tidak baik dari orang-orang yang mendengarkan penilaian saya. Jadi ya, lebih baik saya simpan sendiri,:).
Yup3…., semua orang tanpa sadar akan melakukan penilaian terhadap orang yang dilihatnya. Yang terpenting, hati-hati dalam menyampaikan penilaian, jangan sampai penilaian kita berimbas pada hal-hal ga baik,:). Sukses untuk semua.
Alkisah ada seorang ayah dan anak sedang melewati perjalanan jauh sambil menuntun onta yang terlihat beberapa barang diletakkan di atas onta tersebut. Sampai mereka berpapasan dengan orang pertama dan berkata “Dasar bodoh kalian, onta yang kuat dan kekar itu tidak dinaiki”. Sang ayah kaget dan menyuruh anak untuk naik ke onta tersebut. Kemudian mereka berpapasan dengan orang kedua dan berkata “Emang anak tidak tau diri. Masak ayahnya dibiarkan berjalan menuntun onta yang dinaiki anaknya!”. Sang anak kaget kemudian mempersilahkan ayahnya naik onta. Kemudian mereka berpapasan dengan orang ketiga dan berkata “Wah tega ya, masak anak yang belum besar disuruh menuntun onta!”. Sang ayah kaget kemudian mengajak anaknya untuk naik onta bersama. Hingga mereka bertemu orang keempat dan berkata “Dasar manusia tidak berperikehewanan! Onta kok dinaiki dua orang dan barang, Kasihan!”. Kemudian ayah berkata “Anakku, memang ketika kita mengharap nilai dari manusia, maka akan seperti ini….tidak jelas….Semua salah. Maka biarlah Allah yang menilai kita”.
Biarlah Allah yang menilai kita, nice word.
Sebulan kemarin, saya bertemu secara tidak sengaja dengan seorang teman lama. Sebelumnya lama sekali kami tidak bertemu, perlu waktu yang lama untuk dapat mengenali dengan jelas bahwa yang ada di hadapan saya adalah teman saya (secara fisik banyak yang berubah). Berbicara-berbicara-berbicara, sampai akhirnya dia bertanya ke saya: “ Sebenarnya masuk mapro itu gampang ga si? Apa anak UGM dimudahkan? Ko si A bisa ketrima? Kayaknya kupikir dia biasa aja”. Saya tersentak…., hmmm, ni anak dah mulai melakukan penilaian ni. Kujawab, “Eits, kamu ga bisa menilai kayak gitu, banyak asesmen yang digunakan untuk bisa lolos, anak UGM juga ada yang ga lolos. Kamu ga bisa menilai orang dengan segitu gampangnya”. Teman saya mulai kelihatan salah tingkah melihat nada suara saya meninggi dan gesture saya menunjukkan ketidaksukaan atas apa yang dia katakan. Teman saya: “Maaf, maaf, ya bukan maksudku merendahkan dia…, tapi kalo kulihat misalnya dibanding seorang B gitu…, maaf lo…., maaf ya”. (Saya lihat kayaknya teman saya itu menyesal banget ngomong gitu ke saya). Kupikir, seorang B yang disebut oleh teman saya itu memang seorang yang cukup familiar krn kecerdasan dan keaktifannya di jaman S1, tapi…, kupikir juga kita ga bisa mbeda-mbedain dengan gampangnya orang-orang. Banyak orang yang tidak terlalu kelihatan menonjol ketika kuliah, tetapi sebenarnya kalau mengenal lebih dalam, ternyata anaknya cukup cerdas. Dan yang dulu adalah dulu, sekarang adalah sekarang, bukankah setiap manusia biasanya melakukan proses pembelajaran terus-menerus? Masalahnya ga semua orang bisa mengenal satu-persatu kapasitas teman-temannya sendiri. Itu yang saya sesalkan kenapa teman saya bisa secara gamblang berkata seperti itu kepada orang lain, dalam hal ini saya, yang juga bukan teman dekatnya, ko dia berani menilai seperti itu. Saya yakin dia ga begitu mengenal A. Dia bahkan tidak tahu apakah saya dekat dengan A atau tidak,:).
Setelah berpisah, saya langsung membuka file ingatan saya tentang teman saya itu. Ah ya…, beberapa tahun yang lalu, saya pernah melakukan penilaian sederhana tentang dia. Tapi penilaian itu saya simpan sendiri. Mudah bagi saya sebenarnya untuk menyampaikan penilaian saya itu kepada orang lain, sayangnya…, saya tidak mau penilaian saya itu memunculkan berbagai opini yang berakibat tidak baik dari orang-orang yang mendengarkan penilaian saya. Jadi ya, lebih baik saya simpan sendiri,:).
Yup3…., semua orang tanpa sadar akan melakukan penilaian terhadap orang yang dilihatnya. Yang terpenting, hati-hati dalam menyampaikan penilaian, jangan sampai penilaian kita berimbas pada hal-hal ga baik,:). Sukses untuk semua.
Is Ignorance Really A Bliss?
Dulu diri ini percaya bahwa ketidakpedulian adalah cara teraman melihat dunia yang gila ini. Tetapi sekarang tidak.
Ketika melihat sepasang ‘merpati’ mabuk cinta dan bercumbu di depan mata, hati ini tidak peduli, membiarkannya dan justru bersyukur setidaknya masih ada cinta di hati manusia sekarang ini. Karena dipikir-pikir lebih baik diam dan bersikap ll-gg (lu-lu, gue-gue) ketimbang mulut ini menegur dan mengatakan bahwa bercumbu lebih nikmat dilakukan di mobil pribadi daripada dilihat oleh puluhan pasang mata di pusat perbelanjaan atau di tempat rekreasi umum. Toh ujung-ujungnya, diri ini dibalas dengan pandangan mata yang tajam dari keduanya yang kemudian melontarkan nada tak senang dan sumpah-serapah. Hati ini bisa makin kesal. Apabila diri ini ikut marah, maka hal ini bisa malah jadi lelucon belaka.
Ketika sayup-sayup kata-kata penuh gunjingan terdengar oleh telinga ini, hati ini tidak peduli dan makin menjauh dari sumber keluarnya kata-kata itu. Karena diri ini percaya bahwa bila sesorang mempergunjingkan orang lain, entah itu orang penting ataupun tidak penting, nanti dosa orang yang dipergunjingkan itu justru dibebankan ke orang yang mempergunjingkannya. Itu sudah menjadi janji-Nya. Allah sangat tidak suka orang yang bergunjing. Kalau sudah begitu, lebih baik tidak peduli dan menjauh ketimbang ketambahan dosa.
Ketika melihat kecelakaan di jalan, kaki ini justru lebih cepat melangkah atau menekan gas mobil lebih kuat ketimbang harus memandangi apa dan siapa yang tertabrak, menengok seberapa parahkah lukanya, lalu menolongnya. Simply, diri ini tak ingin menambah macetnya jalanan dan jujur saja, mata ini tak kuat melihat darah bercucuran. Toh sudah banyak orang yang berkerumun di sekitar tempat kejadian. Biarkan mereka yang bertanggung jawab untuk menolong. Karena dipikir-pikir, apabila mereka berani berkerumun, itu pertanda mereka bersedia menolong dengan sukarela. Itu pertanda mereka menunjukkan kepeduliannya.
Tetapi nyatanya, kesimpulan benak ini sangat salah. Baru sadar bahwa kesimpulan itu salah sejak diri ini kehilangan tas. Diambil maling di tengah-tengah sebuah seminar yang – hati ini kira – hanya didatangi oleh kaum cendekia. Hati ini pun menangis karena separuh nyawanya ada di dalam tas itu.
Hati ini kian menangis ketika ternyata ada satu dua orang yang melihat aksi maling itu, detik demi detik. Hati ini akan berhenti menangis apabila telinga ini tidak mendengar pengakuan satu dua orang itu di depan banyak orang yang mengerumuni tubuh ini.
Puluhan pertanyaan hinggap di benak: Kok bisa tidak peduli? Bukankah yang dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di hari kemudian nanti adalah justru orang-orang yang mengetahui sesuatu? Tidakkah mereka takut ditanya oleh-Nya mengapa mereka tidak memberi tahu orang yang tidak tahu? Mengapa tidak segera melapor? Mengapa justru lapor ketika acara seminar itu telah selesai mungkin satu setengah jam setelah maling itu berhasil keluar dari gedung itu? Karena satu-dua orang itu duduk tepat di belakang kursi yang tadinya tubuh ini duduki, tempat tas itu ditinggalkan hanya dalam hitungan sepuluh detik.
Hati ini kian menangis lagi ketika pihak keamanan tidak bertindak cepat dan tegas. Bukannya dengan segera menutup pintu keluar gedung lalu mengecek siapapun yang keluar, justru sibuk mencari secarik kertas di mana tangan ini diminta untuk menulis laporan kehilangan.
Di tengah kerumunan ini hati ini mendadak muak dan perut ini terasa mual. Puluhan mata iba tertuju pada tubuh yang terduduk tak berdaya. Anehnya mereka dan satu-dua orang itu hanya bertanya, “Isi tasnya apa saja, Mbak?”
Tiba-tiba hati ini teringat kejadian ketika mata ini melihat orang bercumbu di depan umum. Seharusnya mulut ini beritahu saja bahwa banyak mata yang keberatan melihat pemandangan itu. Tiba-tiba teringat kejadian ketika orang-orang asyik bergunjing. Seharusnya mulut ini beritahu bahwa bergunjing itu tidak baik. Tiba-tiba teringat kecelakaan itu. Bisa jadi orang-orang itu hanya berkerumun dan tidak membantu apapun.
(Ditulis oleh Gita Wirasti, dalam majalah Noor, edisi Mei 2009)
Ketika melihat sepasang ‘merpati’ mabuk cinta dan bercumbu di depan mata, hati ini tidak peduli, membiarkannya dan justru bersyukur setidaknya masih ada cinta di hati manusia sekarang ini. Karena dipikir-pikir lebih baik diam dan bersikap ll-gg (lu-lu, gue-gue) ketimbang mulut ini menegur dan mengatakan bahwa bercumbu lebih nikmat dilakukan di mobil pribadi daripada dilihat oleh puluhan pasang mata di pusat perbelanjaan atau di tempat rekreasi umum. Toh ujung-ujungnya, diri ini dibalas dengan pandangan mata yang tajam dari keduanya yang kemudian melontarkan nada tak senang dan sumpah-serapah. Hati ini bisa makin kesal. Apabila diri ini ikut marah, maka hal ini bisa malah jadi lelucon belaka.
Ketika sayup-sayup kata-kata penuh gunjingan terdengar oleh telinga ini, hati ini tidak peduli dan makin menjauh dari sumber keluarnya kata-kata itu. Karena diri ini percaya bahwa bila sesorang mempergunjingkan orang lain, entah itu orang penting ataupun tidak penting, nanti dosa orang yang dipergunjingkan itu justru dibebankan ke orang yang mempergunjingkannya. Itu sudah menjadi janji-Nya. Allah sangat tidak suka orang yang bergunjing. Kalau sudah begitu, lebih baik tidak peduli dan menjauh ketimbang ketambahan dosa.
Ketika melihat kecelakaan di jalan, kaki ini justru lebih cepat melangkah atau menekan gas mobil lebih kuat ketimbang harus memandangi apa dan siapa yang tertabrak, menengok seberapa parahkah lukanya, lalu menolongnya. Simply, diri ini tak ingin menambah macetnya jalanan dan jujur saja, mata ini tak kuat melihat darah bercucuran. Toh sudah banyak orang yang berkerumun di sekitar tempat kejadian. Biarkan mereka yang bertanggung jawab untuk menolong. Karena dipikir-pikir, apabila mereka berani berkerumun, itu pertanda mereka bersedia menolong dengan sukarela. Itu pertanda mereka menunjukkan kepeduliannya.
Tetapi nyatanya, kesimpulan benak ini sangat salah. Baru sadar bahwa kesimpulan itu salah sejak diri ini kehilangan tas. Diambil maling di tengah-tengah sebuah seminar yang – hati ini kira – hanya didatangi oleh kaum cendekia. Hati ini pun menangis karena separuh nyawanya ada di dalam tas itu.
Hati ini kian menangis ketika ternyata ada satu dua orang yang melihat aksi maling itu, detik demi detik. Hati ini akan berhenti menangis apabila telinga ini tidak mendengar pengakuan satu dua orang itu di depan banyak orang yang mengerumuni tubuh ini.
Puluhan pertanyaan hinggap di benak: Kok bisa tidak peduli? Bukankah yang dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di hari kemudian nanti adalah justru orang-orang yang mengetahui sesuatu? Tidakkah mereka takut ditanya oleh-Nya mengapa mereka tidak memberi tahu orang yang tidak tahu? Mengapa tidak segera melapor? Mengapa justru lapor ketika acara seminar itu telah selesai mungkin satu setengah jam setelah maling itu berhasil keluar dari gedung itu? Karena satu-dua orang itu duduk tepat di belakang kursi yang tadinya tubuh ini duduki, tempat tas itu ditinggalkan hanya dalam hitungan sepuluh detik.
Hati ini kian menangis lagi ketika pihak keamanan tidak bertindak cepat dan tegas. Bukannya dengan segera menutup pintu keluar gedung lalu mengecek siapapun yang keluar, justru sibuk mencari secarik kertas di mana tangan ini diminta untuk menulis laporan kehilangan.
Di tengah kerumunan ini hati ini mendadak muak dan perut ini terasa mual. Puluhan mata iba tertuju pada tubuh yang terduduk tak berdaya. Anehnya mereka dan satu-dua orang itu hanya bertanya, “Isi tasnya apa saja, Mbak?”
Tiba-tiba hati ini teringat kejadian ketika mata ini melihat orang bercumbu di depan umum. Seharusnya mulut ini beritahu saja bahwa banyak mata yang keberatan melihat pemandangan itu. Tiba-tiba teringat kejadian ketika orang-orang asyik bergunjing. Seharusnya mulut ini beritahu bahwa bergunjing itu tidak baik. Tiba-tiba teringat kecelakaan itu. Bisa jadi orang-orang itu hanya berkerumun dan tidak membantu apapun.
(Ditulis oleh Gita Wirasti, dalam majalah Noor, edisi Mei 2009)
Selasa, 15 Desember 2009
It's all about love
“Aku ditigakan”, begitu kata teman saya……, “What??”….kaget saya mendengar perkataannya. Kalo diduakan masih akrab ditelinga saya ya…., tapi ditigakan? Jarang terbayangkan. Saya jadi inget awal2 mereka jadian, saya bilang ke temen saya itu (putri)…..”Sepertinya kalian akan bertahan lama”. Dukungan itu saya anggep cukup logis karena sepertinya mereka berdua benar2 sangat saling mencintai melebihi cerita2 hubungan sebelumnya, mengingat dalam kurun waktu singkat, teman saya itu sudah gonta-ganti pacar. Cantik, manis, ramah……, gambaran teman saya itu. Dan satu kabar yang sama sekali ga pernah terbayangkan lagi adalah perilaku kasar lelaki itu yang telah berani menampar teman saya itu. Sayangnya……, teman saya itu masih sangat cinta pada mantannya itu setelah apa yang terjadi. Bahkan fotonya dalam ukuran besar pun masih tertempel di dinding kamarnya……, “Dia punya sesuatu yang ga dimiliki oleh orang lain”. Ok….., saya memahami satu kebanggaan yang begitu besar pada diri si putri itu terhadap mantannya itu. “Tetapi, sepinter apapun lelaki itu, sedewasa apapun lelaki itu, sehebat apapun dia, apakah kamu akan memilih untuk mempertahankan dia? Kembali padanya? Setelah dia mentigakan kamu? Menampar kamu? Berbohong padamu? Ayolah, kamu terlalu berharga untuk ndapetin lelaki seperti dia. Kamu ga pantes buat dia”. Dia tersenyum ragu, tidak menjawab pertanyaan saya, tapi malah mengatakan bahwa teman-teman dekatnya sedang gigih2nya membuatnya melupakan mantannya itu. Maka advice terakhir saya…., “Bagus…, tetaplah bersama mereka”……
----------------------------------------------------------------------------------
“Aku bermimpi dia tiga hari berturut-turut, aku jadi khawatir, aku pengin tahu kabar dia, aku bener2 khawatir, apakah dia masih hidup?” kata teman putri saya. Dia melanjutkan “Segala linkq ke dia buntu……, aku ga tahu lagi caraku mengetahui keberadaannya”. Tetapi kemarin, pacarku menemukan jurnal penelitian di tempat kuliah S1nya, dengan nama panjang peneliti persis namanya. “Nah…., itu, kamu bisa menghubungi redaksi jurnal itu, setidaknya, kamu bisa dapetin emailnya”. “Iya ya, kamu benar”. “Tapi buat apa pacarmu membantumu mencari dia?”, Tanya saya. “Dari semua cowok, pacarku merasa, dia adalah saingan terkuatnya. Aku mau menikah tahun ini, tapi aku juga ga tahu dengan siapa aku akan menikah……” (sebuah pernyataan jujur dari seorang wanita yang sedang menjalin komitmen dengan seseorang). Hmm…, dalam hati saya…., ada ya pacar sebaik itu?? Dan setelah melihat kebaikan pacar yg seperti itu, saya nggak habis pikir dengan segala upaya temen saya untuk terang-terangan bercerita ke pacarnya tentang pencarian sang calon suami, :). Lebih tepatnya, tidak hanya bercerita, karena ternyata temen saya dan pacarnya itu sama2 saling mendukung untuk menemukan calon suami dan calon istri bagi mereka masing2…..,:).
----------------------------------------------------------------------------------
“Bantu aku ya….., mau kan?”, pinta saya pada seorang teman. Teman saya tersenyum dan baru menjawab setelah dia memandang sesuatu yang sepertinya jauuuh dimana…., “Aku akan membantumu, kalau kamu memang mau melakukan ini untuk tujuan menikah”. “Iya….., aku mau menikah, tapi tidak sekarang, aku juga sangat menginginkan dia menjadi bagian dari hidupku, tapi aku tidak bisa menikah sekarang……”. “Kenapa tidak bisa?”, tanyanya. “Karena aku harus lulus dan bekerja dulu”, lirih saya katakan, mengingat suatu pesan dari ibu tercinta. Selang waktu berjalan……, kata saya pada teman saya, “Aku semakin takut kehilangan dia, aku mau bilang tentang perasaanku saja”….., teman saya hanya memandang saya tanpa berkata apapun.
----------------------------------------------------------------------------------
“Kurang apa lagi dia untuk jadi istriku, aq belum pernah menemukan akhwat seperti dia. Dia menolak lelaki yang menemui keluarganya hanya untukku. Tapi setelah ada hal seperti ini, restu ibuku yang belum juga kami dapat, kukatakan padanya untuk mencari laki-laki lain, akan kutunggu sampai dia menikah duluan sebelum aq, aq hanya ingin memastikan dia bahagia”.
----------------------------------------------------------------------------------
“Kamu takut kehilangan aq ya?”, tanyanya sambil menggoda saya…., kujawab “Iya…”. “Ridha, aq berkehendak padamu, mungkin kamu juga berkehendak padaku, tapi…, Allah juga punya kehendak”. Cinta yang proporsional, tidak berlebihan, begitulah ia membimbing saya untuk meluruskan persepsi saya tentang cinta. Kata-katanya, matanya saat mengucapkan kata-kata itu…, semuanya…. masih dengan sempurnanya terekam di ingatan saya.
**********************************************************************************
Pada termin terakhir ini, bukan kesimpulan yang tertulis, hanya kata-kata biasa, seperti kata-kata lainnya. Menurut saya, yang penting dalam cinta adalah bagaimana ‘mencintai’, bukan bagaimana ‘dicintai’, so, bersiaplah untuk memberi semua yang terbaik untuk mencapai hal-hal terbaik sebagai wujud mencintai, jangan pikirkan apakah kita juga akan dicintai oleh orang yang kita cintai. Segala sesuatu InsyaAllah ada balasannya kok, jadi, jangan takut untuk berbuat lebih, berbuat baik, percayalah Allah akan membalasnya,:), melalui atau tidak melalui orang yang kita cintai itu.
----------------------------------------------------------------------------------
“Aku bermimpi dia tiga hari berturut-turut, aku jadi khawatir, aku pengin tahu kabar dia, aku bener2 khawatir, apakah dia masih hidup?” kata teman putri saya. Dia melanjutkan “Segala linkq ke dia buntu……, aku ga tahu lagi caraku mengetahui keberadaannya”. Tetapi kemarin, pacarku menemukan jurnal penelitian di tempat kuliah S1nya, dengan nama panjang peneliti persis namanya. “Nah…., itu, kamu bisa menghubungi redaksi jurnal itu, setidaknya, kamu bisa dapetin emailnya”. “Iya ya, kamu benar”. “Tapi buat apa pacarmu membantumu mencari dia?”, Tanya saya. “Dari semua cowok, pacarku merasa, dia adalah saingan terkuatnya. Aku mau menikah tahun ini, tapi aku juga ga tahu dengan siapa aku akan menikah……” (sebuah pernyataan jujur dari seorang wanita yang sedang menjalin komitmen dengan seseorang). Hmm…, dalam hati saya…., ada ya pacar sebaik itu?? Dan setelah melihat kebaikan pacar yg seperti itu, saya nggak habis pikir dengan segala upaya temen saya untuk terang-terangan bercerita ke pacarnya tentang pencarian sang calon suami, :). Lebih tepatnya, tidak hanya bercerita, karena ternyata temen saya dan pacarnya itu sama2 saling mendukung untuk menemukan calon suami dan calon istri bagi mereka masing2…..,:).
----------------------------------------------------------------------------------
“Bantu aku ya….., mau kan?”, pinta saya pada seorang teman. Teman saya tersenyum dan baru menjawab setelah dia memandang sesuatu yang sepertinya jauuuh dimana…., “Aku akan membantumu, kalau kamu memang mau melakukan ini untuk tujuan menikah”. “Iya….., aku mau menikah, tapi tidak sekarang, aku juga sangat menginginkan dia menjadi bagian dari hidupku, tapi aku tidak bisa menikah sekarang……”. “Kenapa tidak bisa?”, tanyanya. “Karena aku harus lulus dan bekerja dulu”, lirih saya katakan, mengingat suatu pesan dari ibu tercinta. Selang waktu berjalan……, kata saya pada teman saya, “Aku semakin takut kehilangan dia, aku mau bilang tentang perasaanku saja”….., teman saya hanya memandang saya tanpa berkata apapun.
----------------------------------------------------------------------------------
“Kurang apa lagi dia untuk jadi istriku, aq belum pernah menemukan akhwat seperti dia. Dia menolak lelaki yang menemui keluarganya hanya untukku. Tapi setelah ada hal seperti ini, restu ibuku yang belum juga kami dapat, kukatakan padanya untuk mencari laki-laki lain, akan kutunggu sampai dia menikah duluan sebelum aq, aq hanya ingin memastikan dia bahagia”.
----------------------------------------------------------------------------------
“Kamu takut kehilangan aq ya?”, tanyanya sambil menggoda saya…., kujawab “Iya…”. “Ridha, aq berkehendak padamu, mungkin kamu juga berkehendak padaku, tapi…, Allah juga punya kehendak”. Cinta yang proporsional, tidak berlebihan, begitulah ia membimbing saya untuk meluruskan persepsi saya tentang cinta. Kata-katanya, matanya saat mengucapkan kata-kata itu…, semuanya…. masih dengan sempurnanya terekam di ingatan saya.
**********************************************************************************
Pada termin terakhir ini, bukan kesimpulan yang tertulis, hanya kata-kata biasa, seperti kata-kata lainnya. Menurut saya, yang penting dalam cinta adalah bagaimana ‘mencintai’, bukan bagaimana ‘dicintai’, so, bersiaplah untuk memberi semua yang terbaik untuk mencapai hal-hal terbaik sebagai wujud mencintai, jangan pikirkan apakah kita juga akan dicintai oleh orang yang kita cintai. Segala sesuatu InsyaAllah ada balasannya kok, jadi, jangan takut untuk berbuat lebih, berbuat baik, percayalah Allah akan membalasnya,:), melalui atau tidak melalui orang yang kita cintai itu.
Minggu, 01 November 2009
Pagi
Pagi......., itu adalah kata pertama yang saya ucapkan dalam hati saya, pagi tadi, saat saya terbangun lebih telat dari pagi-pagi biasanya. Pagi juga merupakan waktu terbaik bagi diri saya untuk melakukan apapun.
Untuk pagi-pagi yang akan datang, saya berharap matahari akan senantiasa memberikan kehangatan bagi siapapun...... (Pagi dengan blog baru,^_^)
Untuk pagi-pagi yang akan datang, saya berharap matahari akan senantiasa memberikan kehangatan bagi siapapun...... (Pagi dengan blog baru,^_^)
Langganan:
Postingan (Atom)