Kamis, 06 Juni 2013

Kekuatan Sebuah Pena

Hari ini, saya bersama sahabat saya menghadiri Talkshow "Kekuatan Pena bersama Tere Liye", penulis favorit saya, di GSP UGM, :). Satu tahunan ini saya memang keranjingan membaca novel-novel karangan Tere Liye, very2 impressed, banyak pemahaman baik yang saya peroleh seusai membaca tulisan-tulisannya, termasuk tulisan2nya di Page FB beliau. Maka ketika ada Talkshow d GSP, yang deket banget dari tempat tinggal saya, dengan harga tiket yang juga sangat murah, saya pikir why not saya meluangkan tanggal merah ini untuk menimba ilmu dari bang Darwis a.k.a Tere Liye ini. Saya akan membagi ilmu yan sudah saya dapat tadi. Here we go..., :)

Menulis adalah membuat nyala terang di sekitar kita. Yess, setuju bang, :).

Lalu bang Darwis mengemukakan dua pertanyaan sebelum kita menulis. 
  1. Kenapa kita harus menulis?
  2. Saya harus menulis apa?
Ok, kita bahas yang pertama, Kenapa kita harus menulis?. Bang Darwis menceritakan dua cerita, yang pertama cerita mengenai tiga dokter yang cantik hatinya. Teman-teman bisa membacanya di http://www.facebook.com/notes/darwis-tere-liye/cerita-3-dokter-cantik-hatinya/434417776608796# dan cerita yag kedua tentang burung pipit, penyu, dan pohon kelapa. Teman-teman bisa membacanya di sini http://www.facebook.com/notes/darwis-tere-liye/burung-pipit-penyu-dan-pohon-kelapa/529482763768963#
Jadi setelah bang Darwis menyampaikan dua cerita di atas, beliau memberikan kesimpulan atas pertanyaan Kenapa kita harus menulis? Yaitu menulis adalah pekerjaan menyebarkan buah-buah kebaikan.

Kemudian pertanyaan kedua, Saya harus menulis apa?. Bang Darwis bercerita mengenai ibu rumah tangga yang bingung mau menulis apa, sehari-hari ibu ini sibuk mengurus anak-anaknya dan suaminya. Ketika ditanya mengenai hobbynya, ibu ini menjawab hobbynya adalah memasak. Lalu ibu ini disarankan menulis resep masakan yang tiap harinya dimasak, di malam hari, ketika anak-anaknya sudah tidur. Tulisan-tulisan itu ditulisnya dalam sebuah blog. Ketika ada pengunjung setia blog sering terbantu karena resep-resep dalam blog tersebut, pengunjung blog itu mereferensikan blog tersebut kepada seorang editor dari sebuah penerbit, editor ini kemudian mempelajari blog tersebut dan menawarkan kepada ibu rumah tangga ini untuk membukukan tulisan-tulisannya. Alhasil, jadilah si ibu ini mempunyai banyak buku hasil tulisan resep2 masakannya, masakan sehari-hari, yang bahan2nya banyak tersedia di pasaran (kebanyakan resep bayak yang bahan2nya saja kita tidak tahu mesti beli dimana kan? :)).  Jadi, kesimpulannya, kita sendiri yang paling tahu kita harus menulis apa. 

Bang Darwis kemudian menyampaikan tips-tips dalam menulis, yaitu:

Yang pertama, semua hal bisa menjadi topik tulisan.
Penulis yang baik selalu bisa menemukan sudut pandang yang spesial dari apapun. Contohnya begini, ada 500 peserta workshop, 500 peserta ini diminta untuk membuat tulisan tentang "hitam". Kebanyakan peserta menulis tentang hitam adalah sebuah warna blablabla. Peserta yang menemukan sudut pandang spesial bisa menulis " Dia hitam, kulitnya hitam,matanya hitam, rambutnya hitam, tasnya hitam, sepatunya hitam, tapi aku tahu, hatinya putih", atau tulisan seperti ini "Ada sebuah mobil hitam melaju dari arah Yogyakarta ke arah Magelang dengan kecepatan 90 km/jam mulai pukul 08.00. Pada pukul 09.00 sebuah mobul hitam lainnya melaju dari Magelang menuju Yogyakarta dengan kecepatan 100 km/jam. Pada pukul berapa kedua mobil hitam in bertemu? (rada-rada inget pelajaran fisika ga si, hehe).  Lihat, dua peserta ini menuliskan sesuatu yang tdak dipikirkan oleh kebanyakan peserta lain, menarik bukan? mereka telah menemukan sudut pandang yang spesial dari warna hitam. Warna hitam bisa menjadi cemerlang jika kita punya sudut pandang spesial, :).
Contoh lainnya adalah siswa-siswa SMA yang diharuskan membuat laporan mengenai hasil kunjungan study tournya di magelang. Kebanyakan siswa membuat laporan dengan cara copy paste laporan kakak-kakak tingkatnya, seperti Borobudur dibangun pada tahun blablabla oleh blablabla dengan jumlah blablabla. Siswa yang bisa menemukan detail kecil yang tidak dilihat oleh siswa lain bisa memberi judul laporannya dengan "Pengemis di sekitar candi Borobudur".
Untuk menemukan sudut pandang yang berbeda, kita harus berpikir kreatif terus-menerus. Berpikir dengan sudut pandang berbeda tidak harus megah, tapi mampu memikirkan apa yang tidak dipikirkan orang lain.

Bang Darwis bercerita tentang pengalamannya ketika kuliah di UI, ketika tahun 1999, ada pertandingan MU melawan Bayer Munchen, bang Darwis dan teman-teman asrama menonton pertandingan tersebut di kantin kampus. Ketika pertandingan selesai, ada yang senang dengan hasilnya, ada yang tidak senang dengan hasilnya, Ada satu temannya bang Darwis yang setelah selesai menonton langsung menuju kamar dan menulis hasil pertandingan di blog. Setiap ada pertandingan, temannya ini selalu menuliskan komentarnya di blog. Beberapa tahun kemudian, bang Darwis membaca tabloid bola, pada sebuah kolom bergengsi, bang Darwis menemukan nama temannya di tabloid tersebut. Ketika S2 di Swiss, dia pun menjadi wartawan yang bisa keluar masuk gratis ke pertandingan-pertandingan bola di dunia. Setelah selesai S2, beliau menjadi direktur perbankan. Pekerjaannya dijalankan, passionnya pun tersalurkan. Dia menjadi seperti itu sekarang, karena dulu, ketika teman-temannya masih beradu pendapat mengenai hasil pertandingan, tetapi dia sudah menuliskan komentarnya mengenai pertandingan tersebut, :)

Yang kedua, penulis yang baik selalu membutuhkan amunisi.
Bang Darwis menceritakan tentang teko dan 16 cangkir. Teko ini tetap bisa menyalurkan air kalau tekonya selalu terisi. Kalau tidak, akan ada cangkir yang tidak terisi air. Kalau sudah punya sudut pandang akan sesuatu, tetapi tidak punya amunisi, akan susah menulis. Bagaimana cara mendapatkan amunisi tersebut? baca buku! Tidak jaman kalau mau jadi penulis tidak mau membaca buku. FB atau twitter adalah budaya lisan yang dituliskan. Semakin banyak membaca, maka semakin banyak amunisinya. Orang yang naik taksi, begitu turun dari taksi bisa bertambah amunisinya, tetapi juga bisa tidak bertambah. Yang tidak bertambah adalah yang hanya naik taksi, diam aja, setelah sampai, turun. Yang bisa menambah amunisi adalah yang bisa memanfaatkan situasi. Supir taksi bisa ditanya apa saja, misalnya "Pernah nyupirin artis ga? rasanya gimana? blablabla".  Contoh lain, sedang antri membayar di supermarket, bisa menambah amunisi dengan bertanya kepada sesama pengantri tentang jenis barang, mana yang murah, yang mahal, rasa-rasa produk, dll.

Yang ketiga, tidak ada tulisan yang baik, tidak ada tulisan yang jelek, yang ada hanyalah relevan atau tidak relevan. 
Kalau ada puisi isinya "Aku sebel sebel sebel sebel", bagi orang dewasa mungkin puisi itu tidak menarik, tetapi bagi ABG yang juga sedang merasakan kesebalan tingkat tinggi, puisi itu bisa menarik baginya, puisi itu relevan bagi ABG itu. 
Bang Darwis kemudian menceritakan kisahnya yang tulisannya "Hafalan Salat Delisa", cerita tentang tunami ditolak oleh penerbit Mizan dan Gramedia. Penerbit Mizan mengatakan bahwa penerbit itu baru menerbitkan dua buku mengenai tsunami. Gramedia mengatakan bahwa mereka belum pernah menerbitkan buku bergenre Islami. Penerbit-penerbit itu tidak mengatakan bahwa tulisan bang Darwis jelek. Tulisan bang Darwis hanya tidak relevan dengan penerbit-penerbit itu. Apakah bang DArwis kecewa? tidak. 
Bang Darwis mengatakan kalau kita bilang "Saya ga PD menulis", katanya no problemo. Kalau bilang "Saya ga bisa sebagai penulis" ini yang tidak boleh. Oh ya, lebih lanjutnya tentang relevan atau tidak relevan bisa dibaca di sini http://www.facebook.com/notes/darwis-tere-liye/rahasia-tulisan/498412000209373# 
Kalaupun tulisan kalian tidak relevan buat orang lain, jangan berkecil hati, pastikan bahwa tulisan kalian relevan buat kalian, :).

Yang keempat adalah kalimat pertama selalu mudah, gaya bahasa adalah kebiasaan.
Banyak yang bingung menuliskan kalimat pertama. Padahal, ya sudah, tulis saja sesuai apa yang dirasa ok. Contohnya, kalimat "Andi ke pasar dengan Ibu membeli pisang", bisa saja diganti menjadi Ke pasar Andi membeli pisang bersama Ibu, atau Andi membeli pisang ke pasar bersama ibu, atau lainnya, hanya dibolak-balik, hanya soal rasa, Tentunya kalau ditanya ke guru bahasa Indonesia, mungkin kalimat yang baik harus mengikuti kaidah SPOK, :). Tenang saja, ikuti kebiasaan. Yang jadi masalah adalah kalau megatakan "Saya bingung, saya berhenti menulis saja".

Yang kelima (ini rada ragu, karena soundnya kurang ok, hehe), menyelesaikan tulisan tidak gampang.
Ada beberapa karya yang Bang Darwis bingung untuk melanjuttkan tulisannya sehingga menuliskan kata TAMAT, :). 
Bang Darwis cerita tentang abang yang ketika kuliah, setahun sekali bang Darwis pulang ke Palembang, bang Darwis selalu memuji masakan capcay hasil masakan ibunya, ketika ditanya kenapa bisa memasak seenak ini, ibunya menjawab "Masak ya masak aja" , sampai bang Darwis mengintip ibunya memasak, ternyata benar. Ketika awal-awal menikah, istri bang Darwis belum terlalu pintar memasak, jadi awal-awal masih suka melihat buku-buku resep masakan. Tapi bulan demi bulan, istrinya sudah tidak lagi membuka resep. Masakannya sudah semakin enak dari waktu ke waktu. Jadi kalau mau menulis, ya tulis saja, :).

Closing statement dari bang Darwis adalah Berikanlah yang terbaik, maka kesuksesan akan datang sendiri. 

Bang Darwis kemudian menjawab beberapa pertanyaan peserta talkshow. 

Ada yang bertanya, bagaimana memanipulasi kejenuhan dalam menulis?
Bang Darwis menjawab "Panggil motivasi terbaik saat kehilangan pegangan" 
Bang Darwis cerita tentang ketika menulis cerita bersambung di media blog/Fb (saya lupa), dan beliau harus ke Kalimantan karena tugas, sehingga belum bisa melanjutkan ceritanya. Kemudian ada satu email yang menarik perhatiannya, yaitu email dari salah seorang TKW di Hongkong yang bercerita bahwa pekerjaannya adalah merawat seorang nenek. Nenek ini selalu diceritakan cerita Mei dan Borno, jadi ketika tulisan itu terhenti, si Nenek ini benar-benar sangat penasaran dengan kelanjutan ceritanya, sehingga TKW ini meminta bang Darwis melanjutkan ceritanya. Dari situ, bang Darwis memahami sesuatu. Kita bisa punya motivasi terbaik dalam menulis. 

Ada tiga level tulisan:
  1. Menemani dan menghibur
  2. Bermanfaat buat banyak orang
  3. Menginspirasi orang untuk berubah 
Kalaupun gagal mencapai level tertinggi, setidaknya tulisan kita bisa menemani dan menghibur, :).

Ada pertanyaan mengenai bacaan apa yang baik bagi penulis pemula. Bang Darwis menjawab bahwa apapun bisa menjadi bacaan baik. Tiap tulisan bisa membuat kita memihak tulisan itu atau tidak.

Penulis yang menginspirasi adalah:
  1. Penulis yang baik tidak merasa bahwa temannya adalah saingannya.
  2. Tidak ada penulis yang baik yang membangga-banggakan tulisannya.
  3. Selalu memahami bahwa tulisan adalah tulisan.
Pilih jalannya, ikuti jalannya, maka kalian akan tiba, :)

Demikian yang bisa saya tulis, mohon maaf untuk segala kekurangan, beberapa belum terelaborasi dengan bagus, kesehatan saya agak sedikit terganggu ketika menyelesaikan tulisan ini, tapi saya berhasil memanggil motivasi terbaik saya untuk menyelesaikannya, :), semoga bermanfaat, :)

Minggu, 28 Oktober 2012

Sejenak kita Ingat - Matahari Tak Lagi

Mari kita habiskan waktu untuk menangis (jika memang ingin menangis)
Mari kita habiskan waktu untuk merenung (jika memang untuk menelaah)

Mari sejenak kita pelajari 5 hari ini
Langkahmu bisa dimulai, tapi juga bisa terhenti

Dan ketika waktu mulai beranjak
Ketika kau pun mencoba menerka, mencoba ada di tengah

Kau tahu, kau terlambat

Bye

(Lima hari ini saya membongkar-bongkar file tahunan yang ingin saya kunjungi, mencoba memastikan sebelum berangkat, belum sampai pintu, yup waktu Anda habis. Hmmmm, okay, be strong!!!!!)

Sabtu, 20 Oktober 2012

Bohong!

Semudah angin menerbangkan daun kering dan mendaratkannya di teras rumah, semudah seperti itu hari ini. Melihat pelangi tanpa diantar hujan. Mendengar suara tanpa langkah. Aku tahu. (Repost status FB akhir Januari 2012 kemarin)

Bagaimana rasanya ketika orang-orang yang kita percaya ternyata berbohong? haha, segera masukkan orang-orang itu ke list "orang-orang ga penting", case closed!

Sabtu, 15 September 2012

Sesi itu

Menikmati seninya sesi dalam hari yang terus membahana sampai menjelang menutup mata

Menjelang atau ketika Subuh besok, senyumku pasti masih ada, :)


Night

Kamis, 08 Desember 2011

Kau = Kilau

Dengan sejumlah dolar
ia sampai ke negriku
berkilau indah pelengkap cahaya mentari

Sekali saja, kuajak ia mengunjungi tanah kelahiran
Setelahnya, menyapa sejenak kota sebelah
Bukankah kota itu mengenalku?
Tak ingatkah salam-salam yang dititipkan dari Jakarta?
Tak ingatkah pada mataku yang selalu mengakrabi dari balik kaca mobil?

Ia baru 3 bulan bersamaku
Kemarin baru saja kukagumi kilaunya--entah keberapa

Sudah 36 jam, jejaknya tak tertangkap lagi


(Sedih mengingat sahabatku berkata "Ridha, ini untukmu")
(Sedih karena Allah mengambilnya ketika cinta ini tengah bertumbuh dengan hebat)
(Sedih karena orang yang membersamaimu sekarang mungkin tak mengerti artimu bagiku)

(Sedih mengingat kau menjadi milikku karena kebaikan&ketulusan sahabat)
(Sedih karena rasa bersalah, mencoba terlalu menjagamu, yang sangat terlalu, sampai aku melupakanmu, how did it happen?)
(Sedih karena kenangan buruk mulai membuntuti kota yang indah itu, tempat dimana ia pergi)

******


Selamat tinggal jam tangan cantikku, aku masih berharap, ada orang baik mengantarkanmu padaku, yang selalu mencintaimu

Sabtu, 19 November 2011

19-11

Sekian waktu kau terwarnai sekitarmu, sekian waktu itu jua kau mewarnai sekitarmu
Kau bisa menjadi seperti matahari, menyinari segala semesta, ruang, dan jiwa yang membutuhkan
Kau juga bisa seperti rembulan, yang lembut terhadap keriuhan bintang
Pernah kau kata, impian-impianmu selalu tampak di depan mata, tapi kau ragu apakah kan tergenggam
Milyaran detik mengantarkanku pada keyakinan akan semua mimpimu, semua yang kau pinta dari Nya
Sahabatku, apapun yang menjadi citamu, kejarlah, perjuangkan apa yang penting bagimu, yang pantas kau dapatkan
Kau tahu? Sedih atau bahagiamu, pasti jadi sedih atau bahagiaku
Jadi, harapan-harapan baikmu…., pasti mengalir dalam doa-doaku
Setulus kebaikan yang kau beri untuk sesama, berlimpah kebaikan kan kau dapatkan, pasti.

Selamat ulang tahun sahabat terbaikku
Tidak ada tart, lilin, atau adukan tepung & telur
Tapi ada lebih dari sejuta selamat untukmu
Dariku, dari daun di pohon sana, dari gerimis, dari pantai…
Dari segala yang kulintasi, mereka menitipkan selamat untukmu

Semoga jalan depan dari usia ini adalah jalan utama berlimpah berkah
Yang kan selalu dalam lindungan-Nya, Amin

(Ditulis untuk seorang sahabat yang berulang tahun di hari ini; 19-11 dua tahun lagi kita jelajahi sabang-merauke ya, hehe)

Senin, 14 November 2011

dan atau

Tujuh dan satu
Tujuh itu mereka, satu itu aku
Tujuh itu untukku, satu itu untuknya
Tujuh itu untuk baikku, satu itu untuk bahagianya kita

dan...., bukan atau....

ataukah sebenarnya...... atau yang kupaksa menjadi dan?

Nafas itu lagi
menikmatinya tanpa mau ada titik
Membuncah dengan sekuatnya
Menciptakan energi, yang lagi dan lagi
seolah, kusanggup hadapi apapun

ini inginku
katakan padaku
bolehkah?

seperti dulu, kau-aku, tanyakan semua
lalu kita rasakan, memiliki itu indah, memiliki menjadikan kita manja

Selasa, 08 November 2011

........

Akan tiba juga, kurasa
Sang merpati belum tampak

Lalu, diam
dan diam

Jatuh
dan jatuh

Mengkristallah
danau itu hijau? biru?
entahlah, tak jelas lagi

(episode terdiam)

Senin, 07 November 2011

Sejenak

Hey, di sini rupanya
............................
kemarin itu...
aku sungkan
Apa kabar?

Great, always
Kupesankan sop matahari
dingin, di luar hujan
sungkanku sejengkal di depanmu

Ini tak lama
kecap saja yang sejenak ini
kita tahu seharian kita akan tersenyum karena ini

Pasti.
Kupesankan lagi ya
teh hangat, pisang goreng, puding, apalagi?

Apa saja
Kau serius tak pulang hari ini?
Bagaimana dengan....

Besok. Tambah apa lagi?

(edisi idul Adha - tanpa menikmati kambing)

Senin, 26 September 2011

Rindu

Rindu itu bisu
Rindu itu syahdu
Jangan sediakan telinga untuk mendengar
Tapi sediakan hati untuk menjawab

(Pemeran utama di sebuah sinetron membacakan sajak ini kepada pemeran kedua)


*Jika Allah berkehendak, ada suatu masa dimana kita akan saling bercerita tentang menariknya perjalanan-perjalanan yang telah kita tempuh

Kamis, 22 September 2011

Bermanfaat Untuk Orang Lain

Semalam saya berangkat tidur saat waktu sudah menunjukkan pukul 00 lebih sedikit, dan bangun satu jam-an sebelum azan Subuh. Biasanya, kalau tidur baru dini hari, habis subuh dah memeluk guling lagi, tapi pagi ini, saya kakatakan: Tidak!! hehe. Saya niatkan akan mendengarkan penyiar radio favorit saya di Jogja Pagi Swaragama FM, sembari melakukan sesuatu yang bermanfaat. Membuka FB, nge-wall sesuatu yang memotivasi, memberi komen yang mengingatkan salat subuh, me-like status2 yang bagus2, membaca-baca blog2 yang menginspirasi, dan sms teman dengan maksud memotivasi.....sederhana kan? :).

Tapi aktivitas saya bertambah dengan dimintanya saya menjadi editor dari sebuah tulisan yang mau dikirim ke surat kabar nomor 1 di Indonesia oleh teman saya, baiklaaaaaah. Langsung saya on-kan sinyal kritis saya, hehe. Membaca kata-perkata, kalimat, keterhubungan kalimat satu dengan kalimat lain, menangkap pesan tiap-tiap kalimat dan paragraf, mengingat-ingat EYD...., dilanjut dengan discuss hasil editan, hehehe. I like this!!!!!! Saya jadi ingat, dua sahabat saya pernah menodong saya untuk menjadi editor naskah tesisnya sebelum dan sesudah ujian tesis. Alamaaaak, ini rada berat karena makan banyak waktu secara tesis bukan satu dua lembar, hehe. Mereka mengatakan kepada dosen pembimbing mereka tentang kualifikasi saya yang mumpuni untuk pengecekan tulisan2, hahaha, ada-ada sajaaaaa, saya diberi kerjaan tambahan di tengah tesis saya sendiri yang waktu itu super njelimet, :p. But really..., saya senang melakukannya, yes, saya menikmatinya, :). Rasulullah pernah bersabda, "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain (HR. Bukhari)". So, tunggu apalagi? Ayo kita banyak-banyak melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain, se-simple apapun itu, :). Melakukan&memberikan sesuatu untuk orang lain, tidak akan mengurangi apapun dari diri kita, tetapi justru akan menambah kebahagiaan kita, karena kita telah melakukan sesuatu yang membuat orang lain bahagia, kita bermanfaat untuk orang lain, ^_^



Rabu, 15 Juni 2011

Menghargai Kejujuran

***Tulisan blog edisi kali ini diterbitkan seijin penulisnya, sahabat baik saya, Ipam Fuaddina adam***

Kejujuran diungkapkan dalam peribahasa lama sebagai mata uang yang lebih bernilai daripada emas. Dan mungkin, kejujuran adalah salah satu nilai moral universal yang diterima dan dihargai oleh seluruh kebudayaan, melewati batas ruang dan rentang waktu. Kita semua menyenangi orang jujur, berteman dan bekerja bersama mereka. Sulit bagi kita menemukan orang yang suka dengan pembohong, penipu, dan label-label lainnya yang menunjukkan hilangnya atribut kejujuran pada diri seseorang. Jelas bahwa secara natural, manusia menyenangi sesuatu yang koheren, apa yang dia lihat sesuai dengan kenyataan riilnya, mekanisme ini didukung oleh kejujuran.

Kejujuran pada pengertian yang paling dasar adalah menyampaikan sesuatu apa adanya, menyampaikan keadaan yang sebenarnya, sesuai kenyataan. Dalam bahasa kekinian, kejujuran sering diungkapkan dengan istilah integritas. Kebalikan dari jujur adalah bohong, menipu, dusta, deceive, curang, memoles/memlintir/menutupi keadaan sebenarnya demi mendapat keuntungan sedangkan orang lain tidak menyadari atau kehilangan persepsi sehingga mengalami kerugian.

Sebagai seorang muslim, saya mendapati bahwa dalam agama Islam kejujuran dipandang dengan harga yang sangat tinggi. Nabi Muhammad S.A.W dijuluki al-Amin karena kejujuran sebagai sifat yang melekat dalam diri beliau, dan atas kesaksian pada pengakuan kejujuran beliau bahwa beliau adalah seorang utusan Tuhan, seseorang dikatakan muslim. Penghargaan pada kejujuran beliau adalah rasionalitas iman seorang muslim. Dalam agama Islam, penghargaan terhadap kejujuran juga dapat dilihat dalam tuntunan untuk senantiasa menjaga lisan dengan mengucapkan kebenaran meskipun pahit serta menjadikan jujur sebagai kebiasaan adalah salah satu jalan menuju surga. Al-quran juga secara tekstual menyebutkan bahwa kejujuran adalah salah satu karakter orang-orang beriman.

Islam melarang seseorang berbohong, menipu, berdusta bahkan ketika bercanda sekalipun. Dalam beberapa hadits shahih, dusta dan sumpah palsu dikategorikan sebagai satu dari tujuh dosa besar. Pada masa pengumpulan hadits dahulu kala, derajat mutu hadits dilihat dari kejujuran para perawinya, bukan dari matan (isi) haditsnya. Hingga sekarang, prinsip ini masih berlaku. padahal kita tahu bahwa hadits adalah sumber hukum pokok kedua setelah Al-quran. Kejujuran juga menjadi ruh dalam banyak aspek muamalah, misalnya : kesaksian pengadilan, jual beli, musyarokah, nikah, dll. Bisa kita lihat bahwa kejujuran adalah salah satu prinsip mendasar dalam Islam karena jangkauannya yang menyeluruh terhadap seluruh sendi-sendi agama.

Konsep kejujuran juga berlaku terhadap diri sendiri. Sering kali kita tidak menghiraukan suara hati, kita malah menafikannya dan lebih percaya pada nafsu dan ego. Ada sesuatu dalam diri kita yang coba dibohongi, dialah hati nurani, inner-self. Ada juga konsep jujur terhadap Tuhan, yang saya coba cocokkan dengan istilah Ihsan dalam Islam. Ihsan artinya kita beribadah seolah-olah kita melihat Allah atau meyakini bahwa Allah melihat kita. Seandainya seorang muslim meyakini pandangan-Nya yang menyeluruh dan kehadiran-Nya yang selalu menyertai, maka bagaimana mungkin seorang muslim akan berbohong kepada Tuhannya? seluruh ibadahnya akan dilandasi dengan keihklasan dan kejujuran, inilah maqom yang oleh para ulama disebut sebagai tingkatan iman tertinggi.

Kejujuran juga dasar dan fondasi dari sikap amanah. tidak akan ada amanah tanpa kejujuran. Amanah adalah ketika pihak yang diberi kuasa menangani urusan berlaku jujur kepada pemilik urusan. Dalam dimensi yang lebih luas, kejujuran dan amanah adalah syarat mutlak bagi suatu sistem sosial untuk menjamin kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh individu-individu didalamnya. Pemimpin yang amanah dan jujur memungkinkan terciptanya public-trust. Pemerintahan yang jujur dan amanah memungkinkan terciptanya supremasi hukum, dimana efek selanjutnya adalah penegakan keadilan, suatu karakter civil society.

Sayangnya sekarang ini, konsep Indonesia sebagai civil society berbasis kejujuran nampaknya cuma sebatas utopia, fatamorgana gurun pasir. kejujuran dan amanah sudah terlalu murah karena ditukar menjadi lembaran rupiah. Korupsi, yang lahir dari sikap khianat karena tidak adanya amanah dan kejujuran, adalah lawan dari keadilan. Ini sangat ironi jika kita kontraskan dengan kenyataan bagaimana seharusnya muslim yang mayoritas di negara ini menghargai kejujuran, rasionalitas iman yang menjadikan kita disebut sebagai muslim.

Senin, 06 Juni 2011

Insensitive (Letto)

a silent move that we make
when we awake
oh no…

my conscience
come and going come and go


a troubled mind and twisted hand
we use everytime this everytime…

all the sentimental feeling
that sometimes makes our heart burning
we surrender to a strong desire
ignorant to the needs of other
.. little whisper of little voices
that calls when we make desperate choices
are we that oblivious?
so insensitive

… so many choices to be made
so little time to decide
so little guilt on our side

Senin, 16 Mei 2011

Donal Bebek: Wek-wek

Teman kos saya tertawa melihat majalah donal bebek diantara 2 surat kabar yang baru saya beli tadi pagi. Bukan cuma dia saja yang tertawa, teman kos saya yang lainnya juga ikut menemani tawa teman saya sebelumnya. ^_^. Saya jadi mengingat perjalanan ke Jawa Timur setahun kemarin. Dalam mobil berisi 6 teman kos lama saya, seorang teman berseru "Ada seorang mahasiswa, buku-bukunya banyak..., korannya juga banyaaak, tapi juga ada donal bebek, haha". Seruan yang menggoda saya, :).

Dari buku yang pernah saya baca, bagaimana kita turut ditentukan oleh buku-buku yang kita baca. Seorang dosen jaman S1 saya (yang akhirnya saya ketahui merupakan saudara dari sahabat dekat saya) pernah bertanya dalam kuliahnya, "Apakah Anda-Anda yang mahasiswa ini masih pantas membaca komik?", beragam jawaban yang dilontarkan mahasiswa-mahasiswanya kala itu, termasuk saya yang pro dengan "pantas-pantas saja". Pertanyaan beliau dijawab oleh beliau sendiri "Sudah ga sepantasnya, bacalah buku-buku yang lebih berat". Sebenarnya, dari sejak saat itu sampai sekarang, saya kurang setuju dengan jawaban beliau, :). Saya pikir, kalau kita mempunyai hobby untuk membaca bacaan-bacaan ringan seperti itu apa salahnya? Apalagi kalau tetap diimbangi dengan bacaan-bacaan yang dianggap lebih "berat". Saya anggap donal bebek sebagai bacaan penyeimbang diantara buku-buku dan surat kabar- surat kabar yang sehari-hari saya baca, yaaaa, sekedar melepaskan kepenatan berpikir dengan bacaan haha-hihi.

Saya rasa, orang-orang yang bekerja di bidang anak-anak/remaja juga akan uptodate dengan bacaan-bacaan yang bersinggungan dengan dunia anak-anak/remaja itu sendiri. Seperti saya yang sedang mengerjakan proyek yang berhubungan dengan remaja. Dua minggu lalu, saya memborong banyak sekali majalah-majalah remaja bekas, tidak ketinggalan buku-buku untuk remaja. Padahal, usia saya, bisa dikatakan sudah tidak remaja lagi, hehe. Tapi kalau saya tidak mengikuti dunia remaja lewat bacaan-bacaan itu, bagaimana saya bisa mengerjakan proyek saya dengan maksimal? hehe.

Kembali ke Donal Bebek. Saya membaca donal bebek tidak dalam rangka mendukung pekerjaan saya secara materi, tapi mendukung secara psikologis, yup! Kehidupan saya tidak pernah bisa terlepas dari donal bebek, sejak saya bisa membaca, sampai sekarang. SD, SMP, SMU, S1, S2, bekerja.... selalu ada donal bebek yang saya sempatkan untuk saya beli walau bekas sekalipun. Waktu SD dan SMP, Orangtua saya selalu membawakan oleh-oleh berbundel-bundel majalah donal bebek bekas ketika mereka menyinggahi kota Semarang (sungguh tidak ada oleh-oleh lezat lainnya selain majalah itu, pada masa itu, ^_^). Bahkan ketika S1, hampir tiap bulan saya sempatkan memborong donal bebek di salah satu kios shopping centre, kios muraaaah, 700 rupiah disaat kios-kios lainnya menghargai donal bebek 2000an (sepertinya bapak pemilik kios ini tidak mengikuti perkembangan harga di kios-kios sekitarnya, hihi, untung di saya dong paaak, :)). Percaya tidak, stok donal bebek di kios ini sampai habis bis bis...., diborong saya semua kayaknya, hehe.

Donal bebek dalam kehidupan anak-anak & remaja saya tidak sedikitpun menyisihkan tempat untuk majalah Bobo, Mickey mouse, Gober Bebek, komik-komik elekmedia komputindo (serial cantik, bersambung, atau misteri), komik-komik petruk gareng, komik-komik HC Andersen, novel trio detektif Alfred Hitchock (i love this novel so much), buku detektif yang ada kunci jawabannya yang bisa dibaca pake cermin atau lewat balik halamannya dengan bantuan lampu, ^_^, Master Q, Tintin, Komik Police, Smurf, Litle Mermaid, Pak Janggut, Lupus, Olga, Gadis, Kawanku, Aneka, buku-buku sastra yang dipinjemi ibu dari perpustakaannya (^_^) dan tentu saja majalah Annida dan novel-novel Islami maupun kumpulan cerpen Islami yang dibawakan dari Jakarta & Bandung oleh kakak saya, ^_^. Waaaaah saya jadi kangen dengan masa-masa dulu, hihi.

Sebagian besar bacaan-bacaan masa dulu itu masih tersimpan di perpustakaan rumah saya di Purbalingga, dengan kondisi yang sudah tidak se-fresh dulu (sudah berbau kertas lama, :)). Beberapa hilang entah kemana (ada yang dipinjem ga balik-balik, :( ). Beberapa lainnya di rumah pemiliknya karena dulu saya hanya pinjam, hehe.

Baiklah, donal bebeknya sudah selesai saya baca, saya beralih membaca Kompas dan Kedaulatan Rakyat dulu ya, ^_^.

Sabtu, 14 Mei 2011

Pikiran ==> Kebahagiaan

Untuk bahagia,
tak perlu banyak hal;
ada dalam dirimu sendiri,
dalam caramu berpikir.

(Marcus Aurelius)

Aku Datang Dengan Alasan

Jangan raba hati ini
Bertanyalah
Ada jawaban jujur
Ada alasan yang tak sempat kau tahu
Karna dini hari ketika kusampai
kau suruh aku bergegas pulang

(Ahad, 7 Maret 2010)

Selasa, 28 Desember 2010

Three Cups of Tea

(Penulis: Haris Nasution, yang diterbitkan di majalah Noor edisi Mei 2009)


Greg Martenson, seorang warga Negara Amerika yang pernah menetap di Pakistan menulis dalam bukunya berjudul Three Cups of Tea, bahwa jika sekali Anda telah diundang minum teh oleh seseorang, maka orang itu telah menghormati Anda sebagai tamu. Jika Anda diundang untuk kali kedua, maka status Anda telah meningkat menjadi teman. Dan pada ketiga kalinya, Anda sudah menjadi bagian dari keluarga mereka. Sungguh sangat mengesankan. Buku itu sendiri mencetak best seller dan memberi inspirasi kepada jutaan pembacanya di seluruh dunia. Bagaimana dengan kita di negeri ini?

Tak ada sedikitpun kesan istimewa dari sebuah undangan minum teh di rumah sesorang. Selalu saja menyelipkan suatu praduga tersendiri, yang kebanyakan praduga itu adalah negatif. “Ada keperluan apa dia mengundang saya datang ke rumahnya?” “Mau pinjam uang atau minta tolong dicarikan pekerjaankah?” Dan kalau yang diundang merasa tak memiliki kepentingan apapun dengan si pengundang, tentu saja dia akan mengabaikan undangan tersebut. Apalagi di tengah suasana yang sibuk…buk… yang apa-apa selalu membutuhkan perhitungan sendiri. Apa untung dan ruginya?

Sudah semakin jarang orang bersilaturahim dengan saling berkunjung. Lebih praktis janjian untuk bertemu di cafĂ© ataupun di pusat perbelanjaan. Rumah bukan lagi menjadi tempat untuk menjalin ikatan silaturahim. Ketika ada seorang sahabat yang sudah lama tak bertemu datang ke kota tempat kita tinggal, hal yang pertama kali terucap, “Ketemuan yuk…, tapi enaknya dimana ya…?” Jarang terdengar ajakan, “Ke rumahku yuk… Kita ngopi atau ngeteh bersama. sekalian kukenalkan dengan keluargaku.”

Privasi! Selalu itu yang menjadi apology. “Jangan di rumah deh, nanti kita nggak leluasa ngobrolnya.” atau “Wah, rumahku berantakan nih. Ketemuan di luar aja deh sekalian makan siang bareng…” Atau ajakan lain yang familiar, “Ketemuan di mal anu aja yuk. Lagi ada sale lo…”

Saya masih ingat bagaimana seringnya orang tua saya mengundang teman-temannya untuk makan siang di rumah. Kami, anak-anaknyalah yang paling senang, karena tentu makan siang pada hari itu akan lebih istimewa. Tapi ketika ayah mendapat masalah di tempatnya bekerja, tak satupun dari teman-teman yang sering diundangnya itu datang bersimpati. Padahal, sudah bercangkir-cangkir teh mereka minum di rumah kami. Begitupun, acara makan siang bersama dengan teman-temannya, tetap tak berhenti! Bagi ayah, menjamu tamu merupakan salah satu kebiasaan Rasulullah yang patut diteladani.

Kalau rumah kita sering dikunjungi orang, tentu kita tak akan memberi kesempatan rumah kita kotor dan berantakan. Kita akan bersemangat untuk membersihkan rumah dan aura rumah pun menjadi baik. Itu adalah ucapan yang sering saya dengar dari ibu saya. So simple.

Kemajuan teknologi selain mengikat silaturahim juga bisa merusaknya. Ketika sebuah keluarga bepergian, seringkali mereka bersama tapi tidak bersama. Si ayah berkonsentrasi menyetir, si ibu asyik ber-facebook dengan telepon genggam dan tersenyum-senyum sendiri. Sedangkan anak-anak khusyu’ dengan game boy. Sesekali terdengar teriakan mereka ketika berhasil mengalahkan lawan di game-nya tersebut. Lantas, ada dimana mereka sekarang? Apa gunanya mereka bepergian bersama? Mungkin kita perlu “mereparasi” bahkan bila perlu “merenovasi” apa makna silaturahim yang kita anut sekarang ini.

Suatu kali, kami sepakat mengadakan arisan keluarga di sebuah restoran. Uak, om, dan tante telah duduk dengan manis di salah satu sisi meja dengan cerita mereka tentang segala kegiatan yang mereka lakukan selama sepekan terakhir. Di satu sisi meja lainnya, beberapa sepupu yang kebetulan berprofesi sebagai arsitek tampak serius membahas proyek yang tengah mereka kerjakan. Di meja lainnya, sepupu-sepupu perempuan yang sangat peduli fashion terlibat perbincangan seru tentang model busana apa yang menjadi tren saat ini dan dimana mereka bisa mendapatkannya. Sementara yang lainnya dengan khidmat membuka fitur-fitur telepon genggam mereka untuk bermain game, facebook-an atau sekedar ber-sms ria.

Untunglah, seorang om tersadar dan kemudian berteriak, “Woiii, ada orang nggak? Kalau nggak ada, mending gue pulang nih…” Barulah semua pada “siuman” dan nyambung kembali. Padahal, di setiap meja telah tersaji bercangkir-cangkir teh dan bergelas-gelas jus. So what? Apa masih perlu lagi pembuktian bahwa sebenarnya tidak cukup tiga cangkir teh untuk membuat kita ngeh silaturahim….


SECANGKIR TEH VS SECAWAN CINTA
Ini bukan cerita yang baru terjadi. Salah seorang teman mengadu bahwa dia telah difitnah oleh teman kami yang lainnya. Dia dituduh menelikung sang teman yang ternyata juga tertarik pada gadis yang sama. Kami kemudian memutuskan mengundang teman tersebut untuk ngeteh bareng guna menyelesaikan persoalan tersebut agar mereka berteman lagi. Tahu apa yang terjadi? Undangan minum teh itu justru menjadi momen di mana hubungan pertemanan keduanya hancur berantakan. Merka bahkan masih tak saling sapa, meski kini sama-sama telah menikah dan bukan dengan gadis yang mereka perebutkan dulu.

Belum lama ini, teman yang menjadi caleg menemui saya dengan wajah yang sangat tak sedap dipandang. Dalam hati saya berujar, “Orang begini kok nekat mencalonkan diri…” Tapi ternyata apa yang saya pikirkan itu juga dipikirkan oleh para konstituennya. Teman saya itu kalah telak dengan hanya mengantongi 50 suara. Itu pun sudah jelas dari sumber yang tak jauh-jauh darinya. Yakni isteri, mertua, ipar, orangtua, kakak, adik dan kerabat lainnya yang bisa saja memilihnya karena terpaksa, kasihan atau maksud terselubung lainnya. Padahal untuk ambisinya itu dia telah mengorbankan segalanya, ya uang, rumah bahkan harga dirinya.

Kalau memang tujuannya untuk kemaslahatan umat kenapa dia jadi shock berat…? Dia bahkan tak menyentuh secangkir teh yang disuguhkan isteri saya padahal dia datang bertamu di rumah kami. Dia juga teman dan memiliki tali persaudaraan dari pihak ibu saya. Jadi, setuju kan kalau saya katakan tidak cukup dengan tiga cangkir teh untuk mengikat tali silaturahim di negeri ini. It’s not enough. Karena kita masih harus membutuhkan bercawan-cawan cinta yang tulus tanpa pamrih.

Kamis, 23 Desember 2010

See....., the beach



Ingin ke pantai (lagi).

Rabu, 10 November 2010

Yang tak lagi sama

Tidak perlu berkeras meyakinkanku bahwa x akan selamanya x

Biar kulihat dan kurasakan saja sendiri




Kalau misalnya x yang kau katakan dulu menjadi y atau a atau apapun yang bukan x,

maka aku bersiap untuk tidak lagi mengandalkan ucapanmu.

Kamis, 23 September 2010

42 jam yang lalu.....

Suatu Siang Di Kota M

jalan menggelombang di bawah angin
berguguran daun-daun asam
barangkali ada yang masih akan kaukatakan padaku
sebelum kaututup kopormu

atau diamlah sementara burung-burung di atap rumah
mengibaskan terik kemarau
sekali waktu kita harus memilih kata-kata
dalam ruang hampa udara

aku pun menabikmu: selamat
dimana akhirnya kita ucapkan kalimat terbaik
sewaktu daun-daun diayunkan angin
sebelum kaututup kopormu

(Sapardi Djoko Damono)