“Saya” yang biasanya ada, menjadi “Aku”
Tepat 12 Januari kemarin, aku bertemu dengan seorang sahabat, yang selama ini jarang bisa kutemui. Sambil membuka merchandise, hadiah dari radio Swaragama, kami berbicara tentang hal-hal yang baru dialami beliau, berkaitan dengan progressnya… Sampai akhirnya tiba, beliau ‘menyapaku’, bertanya kabarku,:). Beliau menanyakan pertanyaan-pertanyaan simple…., tapi tidak cukup simple mungkin bagiku sampai aku tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya itu. Beliau berkata “Kamu boleh tidak menjawabnya, tapi kalau kamu mau berbagi, aku akan senang sekali”. Air mataku reflek mengalir…., terlalu deras alirannya sampai aku semakin tak sanggup untuk menjawab. Air mata itu benar-benar tak tahu diri, tumpah di sebuah tempat makan yang sangat ramai dengan puluhan orang. Terserah dengan siapapun yang mungkin bertanya-tanya “Ko mbaknya nangis?”, walau aku juga malu. Beliau berusaha menenangkan aku dengan menepuk-nepuk punggungku, dan mengelus tanganku…, tapi sentuhan itu membuatku semakin menangis deras.
Kukatakan pada beliau…, “Mba, bukan hanya mba yang tidak tahu progressku. Jangan dipikir cuma mba yang ga tau. Sehari-hari aku bersama Erin…, Erin juga ga tahu, aku ga pernah bercerita. Aini juga. Aku bisa berlama-lama dengannya tanpa menyentuh pembicaraan ke situ. Pipit juga. Aku menutup akses mereka untuk bertanya, sampai mereka tidak berani bertanya lagi. Aku santai include di dalam progress mereka, tanpa mereka tahu progressku. Mba sama dengan mereka, sama nggak tahunya tentang apa yang terjadi denganku”. Beliau bertanya “Kamu nyaman dengan keadaan seperti ini?”. Pertanyaan itu membuatku menangis lagi…, sambil terisak aku menjawab “Enggak”. Kali ini, beliau membiarkan tubuhku tanpa sentuhan darinya. Saat itu, aku hanya mengingat satu nama, aku ingin Erin ada disitu…, dan memelukku.
Beliau berkata…, “Pertemuan itu adalah pertanda, Allah mempertemukan kita sekarang….., InsyaAllah ada hikmahnya” (untuk yang satu ini, aku sedikit lupa kata-katanya). (Catatan, satu hari sebelum hari itu, aku juga bertemu beliau di warung makan lain, sampai surprise bisa bertemu). Kukatakan…, “Iya mba, ini latihan untukku kan, pada saatnya nanti, aku juga akan bercerita, aku malah pengin konferensi pers,:). Aku juga sudah berniat untuk menyelesaikan ini, aku sudah ‘tersadar’,:)”. “Apa yang membuatmu tersadar?”. Kukatakan hal yang membuatku tersadar bahwa aku, harus kembali. Suasana mulai tenang ketika aku berhasil melarang airmataku untuk keluar lagi. Dengan gaya khasnya, beliau bertanya hal-hal yang akhirnya dengan lancar aku jawab, dan aku sama sekali ga sadar bahwa aku telah terpancing, “menjawab” sedikit demi sedikit…., sampai akhirnya aku tersadar, dan aku nggak mau ada “pertanyaan-pertanyaan” lagi. Beliau meminta maaf, dan aku terharu dengan kata-kata beliau.. “Maaf…, aku bertanya, karena aku peduli”.
Mba Monika sayang, terima kasih ya…., memang diperlukan seorang sahabat yang mempunyai keberanian untuk “berbicara” padaku untuk membuatku semakin tersadar. Kalau untuk pengumpulan data dengan metode wawancara, mbakku yang cerdas ini memang jagonya, stimulus pertanyaannya tak menyadarkan, dan full empati,:), salut-salut.
Geng Soleha-ku, Mba Monika, Erin, Aini, pipit, maafkan aku ya….., yang "menghilang" dalam 6 bulan terakhir ini…., maafkan untuk ketidakadaanku dalam progress pencapaian prestasi kalian. Erin…..,, yang tak pernah bertanya padaku, karena kamu paling tahu….., aku tak perlu ditanya, karena aku akan bicara banyak kalau aku mau bicara. Aku sempat berpikir, kasihan kamu nduk….., aku, yang sehari-hari bersamamu, bisa “diam” dan menjalani hidup santai tanpa seperti tertekan. Kamu pernah bilang kan “Kamu berubah”….., iya Erin, kemarin, aku memang berubah, terimakasih ya untuk selalu menemani aku…., aku merasa segalanya akan menjadi lebih baik ketika kutahu kamu ada disampingku. Aini, maafkan aku untuk jarangnya aku “menyapamu”, maafkan aku….., aku berpikir bahwasanya kamu mungkin menganggapku tidak peduli padamu. Nggak honey…., aku hanya sedang ingin “sendiri”, karena aku nggak mau kamu melihat sisi lemahku. Aku cape Ai untuk selalu “baik-baik” saja di depanmu, seolah aku adalah seorang putri yang ceria, padahal aku merasa hidupku sedang tidak ‘ceria’ dan aku ga mau kamu, atau siapapun mengintervensi aku dalam rentang 6 bulan kemarin, belum saatnya menurutku…, maafkan aku ya. Terima kasih untuk selalu bisa kuajak makan sesuatu yang baru saat tak ada satupun makanan yang sudah kukenal yang mau aku makan, terima kasih untuk sms-sms “Mau kutemani?” di saat kau tahu “hariku” menjadi kelabu. Pipit….., maafkan aku juga ya….., yang mungkin ga bisa “menemani” setiap tahap progressmu kemarin. Maaf untuk tak ada cerita yang bisa kubagi saat-saat kemarin. Akhirnya, setelah kita bertemu, ternyata……, buanyak banget ya kejadian-kejadian yang sempat terlewatkan untuk kita bagi di hari kemarin,:). Terima kasih untuk cerita “time is money” mu,:). Mira…., dari yang awal kita selalu bersama dalam mengejar target, sampai akhirnya kamu sukses berjuang dan tiba-tiba aku menghilang…., maafkan aku ya…., maaf untuk melewatkan cerita hari-harimu melewati semua prosesmu, maaf untuk kemarin, yang tak ada cerita yang sanggup aku bagi padamu, terima kasih untuk supportmu yang sangat luar biasa untukku, terima kasih banyak. Anik…., aku selalu teringat kata-katamu sebelum kamu wisuda jeng…., “Seberapa besar kita bertanggungjawab pada mimpi kita”. Anik sayang….., makasih ya untuk supportnya…., untuk selalu meyakinkan aku bahwa segalanya mungkin, segalanya bisa. Moko…., terima kasih untuk pemakluman perubahanku…., maafkan untuk segala sharing yang tak pernah terbalaskan, aku merasa aku sedang “istirahat”,:). Rakhma…., maaf untuk seringnya mengusirmu saat aku sedang berada di depan komputer, maaf untuk menolakmu mengerjakan aktivitas belajar bersama, maaf untuk tidak adanya penjelasan memuaskan tentang “kenapa aku”. Terima kasih sist, untuk ceritamu tentang “orang tua”, yang mengingatkan aku akan betapa cintanya orang tuaku yang telah membesarkan aku sampai saat ini.
Adit, si ngganteng yang hobby nge-game,:), ingat nggak, suatu malam dimana kamu meninggalkan aku dengan suatu ancaman. Kamu sangat tahu bahwa aku mudah sekali untuk menangis, karena aku perasa. Tapi malam itu, aku sama sekali nggak menangis. Kenapa aku nggak menangis? Karena aku tahu, aku tidak seharusnya “diam”. Aku merasa sangat bersalah padamu. Tapi kutahu, kamu juga cukup merasa bersalah telah mengancamku, sampai keesokan harinya, kamu mengajakku bertemu. Dan untuk pertama kalinya, kamu mengirim sebuah sms yang membuatku terharu…”Seorang Adit bisa menulis sms seperti itu”,:). Lalu dalam pertemuan itu kau utarakan…, “Aku ingin menjadi bagian dari kesuksesanmu, tidak seharusnya aku bersikap tidak mau tahu…., aku harusnya tetap mendampingi kamu, aku ingat ketika kamu nggak suka aku nyebut cuk-cuk-cuk dan kamu sering melarangku tapi gagal, kamu bertanya—Apa gunanya aku Adit?--, sama seperti aku, aku pun ingin menjadi bagian dari kesuksesanmu”. Dit…, maafkan aku untuk ketertutupanku kemarin ya….., terimakasih untuk supportnya, doamu, doa yourparent…, sms-sms dan telepon darimu yang selalu meyakinkan aku bahwa kau tetap ada walau kau telah pergi.
Ya….., aku terlalu tahu bahwa kemarin….., aku sedang berada di kondisi yang terlalu sulit untuk bisa kubagi dengan siapapun….., siapapun. Maafkan aku. Tapi sekarang….., tepatnya setelah empat hari sebelum hari ulang tahunku, aku membaca disertasi milik dosen pembimbing tesisku, dikutip dari Bandura, “Setelah seseorang memiliki standar personal, maka jarak atau perbedaan antara kinerja dan standar yang dimiliki, akan mengaktifkan penilaian diri, yang kemudian mempengaruhi perilaku selanjutnya”, aku melakukan proses penilaian dan evaluasi diri. Itulah “saat” aku memutuskan bahwa aku harus kembali,:). Terima kasih untuk Bowo, orang pertama yang kuhubungi setelah proses penilaian dan evaluasi diri ini. “Ngk papa, kita harus memaafkan diri kita”, begitu katamu. Ya bro, terima kasih untuk doa-doamu, terimakasih untuk mengajariku membuat hari-hari ke depan bisa menjadi hari-hari yang indah. Akhirnya aku tahu, bahwa sampai detik ini, aku masih bisa “menemuimu” untuk bicara,:), makasih ya.
Bapak dan ibuku…., 2009 membuatku bisa semakin merasa bahwa selain sebagai orang tua, beliau berdua adalah sahabat terbaik bagiku, yang selalu ada ketika aku begitu bahagia…, maupun ketika aku menangis sedih. Terima kasih Pak, Bu…., maaf belum bisa membanggakan dan membahagiakan sepenuhnya,:).
Bu Yanti, ketua perpustakaan Psi, yang sudah menyambut “kedatanganku” lagi dan sibuk bertanya kenapa aku sekarang jadi agak gemuk (stress ya? ato bahagia? ato kenapa? Ko naiknya bisa 7 kilo?)..,:), terima kasih Bu…., terima kasih. Mas Maman, pemilik fotokopian langganannya anak-anak Psi, yang berkata “Ayo mba Ridha, fotokopinya digiatkan lagi”. Fasilitas-fasilitas umum lainnya yang terkena imbas, “kehilangan satu pelanggannya” selama bulan-bulan kemarin yang kembali lagi kudatangi, dan menyambutku dengan pertanyaan-pertanyaan : “Kemana aja?”, “Wah…, mba-nya…., lama banget ngga ke sini, saya pikir udah lulus”, “Mba pulang ya?”, “Ko sekarang jadi seperti makmur ya”, “Mba…, nggak pernah kelihatan…., mba makin gemuk ya?”…, dll…., terima kasih.
Untuk siapa saja sahabat-sahabat dekatku….., teman-temanku…., yang sudah mendoakan, dari dekat…, dari jauh…., terima kasih, mungkin kalian tidak tahu bahwa 6 bulan terakhir kemarin aku menghilang …, hehehe…., kan beberapa hal ada yang sulit untuk tersajikan dalam bentuk cerita, :). Anggap saja 6 bulan kemarin aku sedang bertamasya….., dan sekarang sudah pulang menggunakan pesawat canggih nan bisa dipercaya, pesawat itu berkata: Sudah kuantar Ridha pulang, dia berjanji untuk segera menyelesaikan tugas yang menjadi kewajibannya,:).
Minggu, 17 Januari 2010
Minggu, 03 Januari 2010
Juice
Saya termasuk orang yang kecanduan minum juice, selanjutnya saya singkat jadi jus aja ya. Dan saya punya partner yang OK dalam berburu jus, Erin. Dari jus di dekat kampus, jus deket kos, jus yang jauh, jus di outlet2 pinggir jalan, jus di warung makan, jus di toko kelontong, sampai jus di restoran. Setelah mencoba jus di tempat baru, kami pasti akan saling berbagi akan rasa “enak/ga enak” dan “mahal/murah” yang akan menentukan “iya/tidaknya” kami ke sana lagi,:).
Dulu kami punya tempat jus langganan, masih di sekitar UGM, tapi lebih dekat ke daerah kos-kosan mahasiswanya. Alasan kenapa kami sering banget ke sana adalah karena enak, murah, penjualnya lucu, dan kita boleh beli jus mix (campuran lebih dari satu buah). Di situ juga ada fotokopian buku tentang manfaat masing-masing buah dan sayuran. Dulu, harga satu porsi jus hanya Rp. 2500, sekarang udah Rp. 3000. Kelemahan tempat itu menurut saya, tempatnya terlihat kurang bersih, dan lamaaaa (ya iyalah, antri), sampai beberapa kali saya sempet2in membeli jajan yang lewat ketika menunggu jus saya selesai dibuat. Saya bahkan sempat beberapa kali mengurungkan niat untuk membeli jus di sana ketika melihat deretan motor sudah memenuhi area depan jus, pikiran saya waktu itu “Mesti lama, lagian, ga ada tempat buat motorku”, tapi itu kalau lagi sendirian lo ya, ga sama jeng Erin,:).
Sekarang, jus di tempat itu sudah bukan langganan kami lagi. Erin sudah membeli blender untuk membuat jus sendiri, dan saya, sudah menemukan tempat langganan lain,:). Berawal dari Aa saya yang membelikan jus untuk saya dan Erin, dan ternyata…, jus itu enaaaaak banget. (Catatan: Aa saya itu dulu kekasih saya, sekarang udah jadi sahabat, tapi panggilan aa masih boleh disebut,hehe). Ternyata dia membelinya di jalan depan FT UNY. Dan saya tau banget, aa saya itu anti gula,anti es, so, jangan2 jus yang saya minum waktu itu sugar free….(belum saya konfirmasi). Kalau gitu…, wah….., super sekali rasanya. Akhirnya, saya mencoba sendirian ke tempat langganan Aa itu. Hmhmhm….., saya terkesan, tempatnya sangat bersih, pilihan buahnya buanyak, dan ada tiga kategori harga, Rp 3000, Rp. 4000, dan Rp. 5000, tergantung buahnya. Jusnya kental banget, berbeda sekali dengan jus langganan saya sebelumnya. Hampir tiap hari saya membeli jus di sini, sehari sampai dua kali, pagi dan sore. Kalau dalam sehari saya belum minum jus dari tempat itu, rasanya ada yang kurang, gelisah…(halaaah), hehe. Tapi yang saya tidak suka, antrinya itu lo (kalau lagi antri ya), tapi memang ketika saya membeli, pas antri2nya, jadi makan banyak waktu saya,:p. Dan karena beberapa hari ini saya merasa sedang tidak ingin membuang-buang waktu, maka saya hanya akan membeli jus di tempat yang tidak mesti antri, dan dilewati ketika saya mau pulang ke kos (tidak mesti berbelok arah dulu melawan arah pulang ke kos saya). Jus yang sering saya beli adalah jus mangga, jambu, dan belimbing. Dua hari awal di 2010 adalah hari tersial saya dalam berurusan dengan jus. Gimana tidak, 2 hari itu saya membeli jus di outlet jus jalan Gejayan, belum juga sampai kos, jus itu jatuh dan tumpah di jalan ketika saya sedang mengendarai vega saya. saya hanya bisa melihat jus saya tak terselamatkan. akhirnya 2 hari itu juga saya langsung menggantinya dengan membeli jus di dekat lembah UGM. Tragis, padahal, saya sudah mencoba menyetir vega selambat mungkin, jus saya tetap jatuh, hiks. Saya jadi illfeel untuk membeli jus di jalan gejayan itu.
Oya, ibu saya juga suka membuat jus. Ketika di rumah, pas saya bangun pagi, tiga gelas besar jus sudah tersedia di dalam lemari es. Tiga gelas itu untuk bapak, ibu, dan saya. Ibu mencampurkan 5 macam buah untuk dijadikan jus yaitu apel, jambu, tomat, wortel, dan bengkoang. Saya sebenarnya tidak begitu suka jus wortel, tapi, jus bikinan ibu saya itu TOP banget, rasa wortelnya ga kerasa sama sekali (diakuin juga oleh teman saya yang sempat bertamu ke rumah saya),:). Lucunya, teman saya itu hanya mau diberitahu isi jus itu setelah dia selesai minum jusnya, karena dia anti wortel. Jadi kalau wortel sudah masuk ke dalam perutnya setelah dia selesai meminum jus, semuanya aman, hehe, Nia…., nia…., someday, masih maukah kau minum jus di rumahku kalau sudah tau komposisinya seperti itu? hehe.
Saking sukanya minum jus, saya pernah berbicara dengan ibu saya, “gimana kalau saya bisnis jus di alun2 Purbalingga?”, karena saya opimis, akan sangat laku sekali, mulainya pas cuaca lagi panas-panasnya. Ibu saya malah bilang, “Di sana itu udah banyak penjual es”. Lalu saya jawab “Oh, kalau gitu bisnis es yang aneh-aneh aja, semacam es Eny dan es Murni kalau di Yogya, jadi nama esnya aneh-aneh, es jatuh cinta, es patah hati, es anti stress, hehe”. Lalu selanjutnya bagaimana? Hmhmhm…., belum tahu…..,:). Tulisan ini harus saya akhiri dulu, saya mau membeli jus,:).
Dulu kami punya tempat jus langganan, masih di sekitar UGM, tapi lebih dekat ke daerah kos-kosan mahasiswanya. Alasan kenapa kami sering banget ke sana adalah karena enak, murah, penjualnya lucu, dan kita boleh beli jus mix (campuran lebih dari satu buah). Di situ juga ada fotokopian buku tentang manfaat masing-masing buah dan sayuran. Dulu, harga satu porsi jus hanya Rp. 2500, sekarang udah Rp. 3000. Kelemahan tempat itu menurut saya, tempatnya terlihat kurang bersih, dan lamaaaa (ya iyalah, antri), sampai beberapa kali saya sempet2in membeli jajan yang lewat ketika menunggu jus saya selesai dibuat. Saya bahkan sempat beberapa kali mengurungkan niat untuk membeli jus di sana ketika melihat deretan motor sudah memenuhi area depan jus, pikiran saya waktu itu “Mesti lama, lagian, ga ada tempat buat motorku”, tapi itu kalau lagi sendirian lo ya, ga sama jeng Erin,:).
Sekarang, jus di tempat itu sudah bukan langganan kami lagi. Erin sudah membeli blender untuk membuat jus sendiri, dan saya, sudah menemukan tempat langganan lain,:). Berawal dari Aa saya yang membelikan jus untuk saya dan Erin, dan ternyata…, jus itu enaaaaak banget. (Catatan: Aa saya itu dulu kekasih saya, sekarang udah jadi sahabat, tapi panggilan aa masih boleh disebut,hehe). Ternyata dia membelinya di jalan depan FT UNY. Dan saya tau banget, aa saya itu anti gula,anti es, so, jangan2 jus yang saya minum waktu itu sugar free….(belum saya konfirmasi). Kalau gitu…, wah….., super sekali rasanya. Akhirnya, saya mencoba sendirian ke tempat langganan Aa itu. Hmhmhm….., saya terkesan, tempatnya sangat bersih, pilihan buahnya buanyak, dan ada tiga kategori harga, Rp 3000, Rp. 4000, dan Rp. 5000, tergantung buahnya. Jusnya kental banget, berbeda sekali dengan jus langganan saya sebelumnya. Hampir tiap hari saya membeli jus di sini, sehari sampai dua kali, pagi dan sore. Kalau dalam sehari saya belum minum jus dari tempat itu, rasanya ada yang kurang, gelisah…(halaaah), hehe. Tapi yang saya tidak suka, antrinya itu lo (kalau lagi antri ya), tapi memang ketika saya membeli, pas antri2nya, jadi makan banyak waktu saya,:p. Dan karena beberapa hari ini saya merasa sedang tidak ingin membuang-buang waktu, maka saya hanya akan membeli jus di tempat yang tidak mesti antri, dan dilewati ketika saya mau pulang ke kos (tidak mesti berbelok arah dulu melawan arah pulang ke kos saya). Jus yang sering saya beli adalah jus mangga, jambu, dan belimbing. Dua hari awal di 2010 adalah hari tersial saya dalam berurusan dengan jus. Gimana tidak, 2 hari itu saya membeli jus di outlet jus jalan Gejayan, belum juga sampai kos, jus itu jatuh dan tumpah di jalan ketika saya sedang mengendarai vega saya. saya hanya bisa melihat jus saya tak terselamatkan. akhirnya 2 hari itu juga saya langsung menggantinya dengan membeli jus di dekat lembah UGM. Tragis, padahal, saya sudah mencoba menyetir vega selambat mungkin, jus saya tetap jatuh, hiks. Saya jadi illfeel untuk membeli jus di jalan gejayan itu.
Oya, ibu saya juga suka membuat jus. Ketika di rumah, pas saya bangun pagi, tiga gelas besar jus sudah tersedia di dalam lemari es. Tiga gelas itu untuk bapak, ibu, dan saya. Ibu mencampurkan 5 macam buah untuk dijadikan jus yaitu apel, jambu, tomat, wortel, dan bengkoang. Saya sebenarnya tidak begitu suka jus wortel, tapi, jus bikinan ibu saya itu TOP banget, rasa wortelnya ga kerasa sama sekali (diakuin juga oleh teman saya yang sempat bertamu ke rumah saya),:). Lucunya, teman saya itu hanya mau diberitahu isi jus itu setelah dia selesai minum jusnya, karena dia anti wortel. Jadi kalau wortel sudah masuk ke dalam perutnya setelah dia selesai meminum jus, semuanya aman, hehe, Nia…., nia…., someday, masih maukah kau minum jus di rumahku kalau sudah tau komposisinya seperti itu? hehe.
Saking sukanya minum jus, saya pernah berbicara dengan ibu saya, “gimana kalau saya bisnis jus di alun2 Purbalingga?”, karena saya opimis, akan sangat laku sekali, mulainya pas cuaca lagi panas-panasnya. Ibu saya malah bilang, “Di sana itu udah banyak penjual es”. Lalu saya jawab “Oh, kalau gitu bisnis es yang aneh-aneh aja, semacam es Eny dan es Murni kalau di Yogya, jadi nama esnya aneh-aneh, es jatuh cinta, es patah hati, es anti stress, hehe”. Lalu selanjutnya bagaimana? Hmhmhm…., belum tahu…..,:). Tulisan ini harus saya akhiri dulu, saya mau membeli jus,:).
Selasa, 15 Desember 2009
Kujanjikan Aku Ada
“Xxx, jangan tinggalin aq ya”, begitu sms malam2 yang saya kirimkan untuk seorang sahabat nun jauh dari tempat saya berada. Sms balesannya: “Gedubrak..sms apa ini? ono opo tho? koq melankolis gini,:), lonely ni?”. Saya sudah menduga bahwa sahabat saya akan sekaget itu membaca sms saya. Sederhana saja, terbiasa hahahihi dalam bahasa sms memungkinkan kekagetan dalam bahasa sms yang sangat jauh berbeda dari biasanya.
Saya katakan padanya bahwa saya merasa ditinggalkan oleh orang-orang yang biasanya selalu ‘ada’ dalam setiap nafas hidup saya. Lalu saya katakan bahwa ‘kenapa aq jadi pamrih gini’, dengan membahas 24 jam saya selalu siap untuk ‘ada’ bagi mereka, tapi sekarang, ketika saya membutuhkan mereka, ‘ada’ kah mereka untuk saya? Di mana mereka? Jahatnya saya, sampai saya berpikir, entah pagi dini hari, entah malam2 sekali, entah ketika hanya sedikit ruang yang saya miliki untuk ‘melayani’, akan saya usahakan untuk ‘ada’, saat itu juga, minimal dengan membalas sms atau menerima panggilan telepon. Kenapa saat itu juga? Karena saya memposisikan diri saya pada posisi mereka, yang sedang “sangat membutuhkan”. Bagi saya, tidak ‘saat itu juga’, terlambat sudah…
Beberapa hal yang masih sangat jelas terekam dalam ingatan saya ketika saya ‘terlambat ada’, diantaranya adalah:
*** Seorang teman yang meminta bertemu saya tepat di hari setelah ujian tesisnya selesai dilaksanakan. Dengan bahasa yang cukup diplomatis menghibur, saya pastikan bahwa ‘semuanya baik2 aja kan’, Karena jawabannya bernuansa ‘baik’, maka saya tidak menyanggupi ketemuan itu. Hampir satu minggu teman saya itu terus mendesak saya untuk bertemu, tapi saya selalu menolak. Saya punya alasan khusus yang tentu saja tidak saya katakan padanya kenapa saya menolak bertemu dengannya, yang jelas, itu saya lakukan untuk kebaikan saya,:). Lagipula, mengingat sosoknya yang humoris, sangat suka bercanda, saya merasa mendapat jaminan bahwa, ‘dia akan baik-baik saja’ menerima penolakan saya,:). Tapi tepat 6 hari setelah itu, saya memutuskan untuk menerima ajakan ketemuan, dalam sebuah acara dinner, merayakan kelulusannya. Full senyum, full ketawa, itu yang membuat suasana selalu lebih hidup ketika berbicara dengannya, selain satu hal, saya tertegun mendengar jawaban dia ketika saya meminta maaf karena selalu menolak ketemuan. Jawabannya simple, kurang lebih seperti ini “Gapapa Ridha…, hanya saja, aq merasa aku sedang ingin berbicara dengan seseorang setelah aku melewati suatu proses di hari itu”. Sontak saya merasa sangat sangat bersalah sekali. Saya membayangkan, seandainya saya berada di posisinya, saya pasti akan sangat kecewa ketika saya membutuhkan teman bicara, orang yang saya minta sebagai teman bicara saya menolak untuk menemani saya berbicara dengan alasan yang sangat ga jelas. Berkali-kali saya meminta maaf sampai akhirnya ia memegang tangan saya dan menatap mata saya dengan sangat serius untuk meyakinkan saya dengan mengatakan “Nggak papa Ridha, nggak papa”. kemudian saya mengatakan padanya “Aq janji, aq nggak akan melakukan hal itu lagi, kalau waktu bisa diulang, aku akan ada menemani kamu”.
*** Sahabat saya menelepon saya, bertanya: “Kamu ngapain hari ini? Ada di kos ga? Aku ke kosmu ya….”. Aku tahu, sahabat saya ini pasti ingin ‘bercerita’, tapi mengingat agenda-agenda saya yang sepertinya ‘akan sedikit berantakan’ kalau dia ke kos saya, saya menolak untuk bertemu hari itu juga. saya janjikan “Hari xxx aja ya, biar aku yang ke kosmu”. Menurut saya, kalau saya “sebagai tamu” di kos orang, saya bisa mengatur akan berapa lama saya bertamu, tapi kalau saya yang kedapetan tamu, akan sangat ga enak mengusirnya kalau agenda lain sudah menunggu, hehe. Ok, beberapa hari setelahnya, saat bertemu, benar saja dia bercerita tentang hal2 yang cukup serius yang sedang ia alami dalam hidupnya, sampai ada pelukan menenangkan karena ada air mata,:). Menunggu berhari-hari baginya untuk akhirnya bisa menumpahkan ceritanya ke saya merupakan suatu hal yang saya duga “sangat tidak enak”. harusnya, air mata itu sudah keluar hari-hari kemarin, harusnya, sejak hari kemarin dia merasa baikan karena sudah mendengar satu dua kalimat dari saya yang membuatnya terinspirasi untuk melakukan sesuatu.
Akhirnya saya introspeksi, apa yang salah ya dari keadaan ini? Kenapa saya merasa ditinggalkan? Lalu saya tahu jawabannya. Saya merupakan tipe orang yang sangat tidak ingin merepotkan orang lain. Saya tidak akan berani “menelepon” seseorang di malam-malam yang larut atau dini hari ketika kebanyakan orang masih tidur, tanpa konfirmasi sebelumnya bahwa saya mau menelepon. Saya tidak berani, saya merasa tidak enak, takut mengganggu. walaupun untuk sahabat2 dekat, saya memberikan toleransi tak berbatas untuk 24 jam menghubungi saya. Lalu sekarang, kalau saya tidak berani untuk “meminta”, untuk “datang” ke mereka, bagaimana mereka tahu bahwa saya sedang membutuhkan mereka? Mengandalkan kekuatan pikiran dan perasaan untuk menyampaikan pesan? Wah, kalau untuk yang satu ini, sudah lumayan lama saya tidak mengasah kepekaan saya,:). Akhirnya saya mengubah telepon menjadi sms, karena saya pikir mereka yang sedang tidur pun bisa tidak terganggu karena mungkin tidak mendengar bunyi sms datang, dan saya berharap sms akan segera dibalas secepatnya setelah dibaca. Tapi saya memang tidak mempunyai kekuatan untuk mengendalikan orang lain, seperti meminta orang lain untuk segera membalas sms saya misalnya,:). Sama seperti ketika saya menelepon orang, saya tidak bisa mengendalikan orang itu untuk sepenuh hati mendengarkan cerita saya, walau selama ini saya merasa sudah cukup mendengarkan dengan sepenuh hati cerita orang-orang yang berbagi pada saya,:). Saya sama sekali tidak dapat menuntut orang lain melakukan hal seperti yang saya lakukan. Karena tidak mau ‘kecewa’ karena merasa tidak didengarkan sepenuh hati’, saya memilih untuk mulai tidak berbagi dengan siapapun, termasuk orang-orang terdekat layaknya kekasih sekalipun. Ah ya…, pengalaman buruk membuat saya tidak mau menyentuh ranah yang bisa membuat saya kecewa (lagi),:).
Tapi bagaimanapun juga, saya tetap ingin mengucapkan terima kasih untuk siapa saja yang sudah pernah menemani saya ‘bicara’ hingga saat ini, maafkan segala hal tidak mengenakkan yang datangnya dari saya.
Saya katakan padanya bahwa saya merasa ditinggalkan oleh orang-orang yang biasanya selalu ‘ada’ dalam setiap nafas hidup saya. Lalu saya katakan bahwa ‘kenapa aq jadi pamrih gini’, dengan membahas 24 jam saya selalu siap untuk ‘ada’ bagi mereka, tapi sekarang, ketika saya membutuhkan mereka, ‘ada’ kah mereka untuk saya? Di mana mereka? Jahatnya saya, sampai saya berpikir, entah pagi dini hari, entah malam2 sekali, entah ketika hanya sedikit ruang yang saya miliki untuk ‘melayani’, akan saya usahakan untuk ‘ada’, saat itu juga, minimal dengan membalas sms atau menerima panggilan telepon. Kenapa saat itu juga? Karena saya memposisikan diri saya pada posisi mereka, yang sedang “sangat membutuhkan”. Bagi saya, tidak ‘saat itu juga’, terlambat sudah…
Beberapa hal yang masih sangat jelas terekam dalam ingatan saya ketika saya ‘terlambat ada’, diantaranya adalah:
*** Seorang teman yang meminta bertemu saya tepat di hari setelah ujian tesisnya selesai dilaksanakan. Dengan bahasa yang cukup diplomatis menghibur, saya pastikan bahwa ‘semuanya baik2 aja kan’, Karena jawabannya bernuansa ‘baik’, maka saya tidak menyanggupi ketemuan itu. Hampir satu minggu teman saya itu terus mendesak saya untuk bertemu, tapi saya selalu menolak. Saya punya alasan khusus yang tentu saja tidak saya katakan padanya kenapa saya menolak bertemu dengannya, yang jelas, itu saya lakukan untuk kebaikan saya,:). Lagipula, mengingat sosoknya yang humoris, sangat suka bercanda, saya merasa mendapat jaminan bahwa, ‘dia akan baik-baik saja’ menerima penolakan saya,:). Tapi tepat 6 hari setelah itu, saya memutuskan untuk menerima ajakan ketemuan, dalam sebuah acara dinner, merayakan kelulusannya. Full senyum, full ketawa, itu yang membuat suasana selalu lebih hidup ketika berbicara dengannya, selain satu hal, saya tertegun mendengar jawaban dia ketika saya meminta maaf karena selalu menolak ketemuan. Jawabannya simple, kurang lebih seperti ini “Gapapa Ridha…, hanya saja, aq merasa aku sedang ingin berbicara dengan seseorang setelah aku melewati suatu proses di hari itu”. Sontak saya merasa sangat sangat bersalah sekali. Saya membayangkan, seandainya saya berada di posisinya, saya pasti akan sangat kecewa ketika saya membutuhkan teman bicara, orang yang saya minta sebagai teman bicara saya menolak untuk menemani saya berbicara dengan alasan yang sangat ga jelas. Berkali-kali saya meminta maaf sampai akhirnya ia memegang tangan saya dan menatap mata saya dengan sangat serius untuk meyakinkan saya dengan mengatakan “Nggak papa Ridha, nggak papa”. kemudian saya mengatakan padanya “Aq janji, aq nggak akan melakukan hal itu lagi, kalau waktu bisa diulang, aku akan ada menemani kamu”.
*** Sahabat saya menelepon saya, bertanya: “Kamu ngapain hari ini? Ada di kos ga? Aku ke kosmu ya….”. Aku tahu, sahabat saya ini pasti ingin ‘bercerita’, tapi mengingat agenda-agenda saya yang sepertinya ‘akan sedikit berantakan’ kalau dia ke kos saya, saya menolak untuk bertemu hari itu juga. saya janjikan “Hari xxx aja ya, biar aku yang ke kosmu”. Menurut saya, kalau saya “sebagai tamu” di kos orang, saya bisa mengatur akan berapa lama saya bertamu, tapi kalau saya yang kedapetan tamu, akan sangat ga enak mengusirnya kalau agenda lain sudah menunggu, hehe. Ok, beberapa hari setelahnya, saat bertemu, benar saja dia bercerita tentang hal2 yang cukup serius yang sedang ia alami dalam hidupnya, sampai ada pelukan menenangkan karena ada air mata,:). Menunggu berhari-hari baginya untuk akhirnya bisa menumpahkan ceritanya ke saya merupakan suatu hal yang saya duga “sangat tidak enak”. harusnya, air mata itu sudah keluar hari-hari kemarin, harusnya, sejak hari kemarin dia merasa baikan karena sudah mendengar satu dua kalimat dari saya yang membuatnya terinspirasi untuk melakukan sesuatu.
Akhirnya saya introspeksi, apa yang salah ya dari keadaan ini? Kenapa saya merasa ditinggalkan? Lalu saya tahu jawabannya. Saya merupakan tipe orang yang sangat tidak ingin merepotkan orang lain. Saya tidak akan berani “menelepon” seseorang di malam-malam yang larut atau dini hari ketika kebanyakan orang masih tidur, tanpa konfirmasi sebelumnya bahwa saya mau menelepon. Saya tidak berani, saya merasa tidak enak, takut mengganggu. walaupun untuk sahabat2 dekat, saya memberikan toleransi tak berbatas untuk 24 jam menghubungi saya. Lalu sekarang, kalau saya tidak berani untuk “meminta”, untuk “datang” ke mereka, bagaimana mereka tahu bahwa saya sedang membutuhkan mereka? Mengandalkan kekuatan pikiran dan perasaan untuk menyampaikan pesan? Wah, kalau untuk yang satu ini, sudah lumayan lama saya tidak mengasah kepekaan saya,:). Akhirnya saya mengubah telepon menjadi sms, karena saya pikir mereka yang sedang tidur pun bisa tidak terganggu karena mungkin tidak mendengar bunyi sms datang, dan saya berharap sms akan segera dibalas secepatnya setelah dibaca. Tapi saya memang tidak mempunyai kekuatan untuk mengendalikan orang lain, seperti meminta orang lain untuk segera membalas sms saya misalnya,:). Sama seperti ketika saya menelepon orang, saya tidak bisa mengendalikan orang itu untuk sepenuh hati mendengarkan cerita saya, walau selama ini saya merasa sudah cukup mendengarkan dengan sepenuh hati cerita orang-orang yang berbagi pada saya,:). Saya sama sekali tidak dapat menuntut orang lain melakukan hal seperti yang saya lakukan. Karena tidak mau ‘kecewa’ karena merasa tidak didengarkan sepenuh hati’, saya memilih untuk mulai tidak berbagi dengan siapapun, termasuk orang-orang terdekat layaknya kekasih sekalipun. Ah ya…, pengalaman buruk membuat saya tidak mau menyentuh ranah yang bisa membuat saya kecewa (lagi),:).
Tapi bagaimanapun juga, saya tetap ingin mengucapkan terima kasih untuk siapa saja yang sudah pernah menemani saya ‘bicara’ hingga saat ini, maafkan segala hal tidak mengenakkan yang datangnya dari saya.
It's all about love
“Aku ditigakan”, begitu kata teman saya……, “What??”….kaget saya mendengar perkataannya. Kalo diduakan masih akrab ditelinga saya ya…., tapi ditigakan? Jarang terbayangkan. Saya jadi inget awal2 mereka jadian, saya bilang ke temen saya itu (putri)…..”Sepertinya kalian akan bertahan lama”. Dukungan itu saya anggep cukup logis karena sepertinya mereka berdua benar2 sangat saling mencintai melebihi cerita2 hubungan sebelumnya, mengingat dalam kurun waktu singkat, teman saya itu sudah gonta-ganti pacar. Cantik, manis, ramah……, gambaran teman saya itu. Dan satu kabar yang sama sekali ga pernah terbayangkan lagi adalah perilaku kasar lelaki itu yang telah berani menampar teman saya itu. Sayangnya……, teman saya itu masih sangat cinta pada mantannya itu setelah apa yang terjadi. Bahkan fotonya dalam ukuran besar pun masih tertempel di dinding kamarnya……, “Dia punya sesuatu yang ga dimiliki oleh orang lain”. Ok….., saya memahami satu kebanggaan yang begitu besar pada diri si putri itu terhadap mantannya itu. “Tetapi, sepinter apapun lelaki itu, sedewasa apapun lelaki itu, sehebat apapun dia, apakah kamu akan memilih untuk mempertahankan dia? Kembali padanya? Setelah dia mentigakan kamu? Menampar kamu? Berbohong padamu? Ayolah, kamu terlalu berharga untuk ndapetin lelaki seperti dia. Kamu ga pantes buat dia”. Dia tersenyum ragu, tidak menjawab pertanyaan saya, tapi malah mengatakan bahwa teman-teman dekatnya sedang gigih2nya membuatnya melupakan mantannya itu. Maka advice terakhir saya…., “Bagus…, tetaplah bersama mereka”……
----------------------------------------------------------------------------------
“Aku bermimpi dia tiga hari berturut-turut, aku jadi khawatir, aku pengin tahu kabar dia, aku bener2 khawatir, apakah dia masih hidup?” kata teman putri saya. Dia melanjutkan “Segala linkq ke dia buntu……, aku ga tahu lagi caraku mengetahui keberadaannya”. Tetapi kemarin, pacarku menemukan jurnal penelitian di tempat kuliah S1nya, dengan nama panjang peneliti persis namanya. “Nah…., itu, kamu bisa menghubungi redaksi jurnal itu, setidaknya, kamu bisa dapetin emailnya”. “Iya ya, kamu benar”. “Tapi buat apa pacarmu membantumu mencari dia?”, Tanya saya. “Dari semua cowok, pacarku merasa, dia adalah saingan terkuatnya. Aku mau menikah tahun ini, tapi aku juga ga tahu dengan siapa aku akan menikah……” (sebuah pernyataan jujur dari seorang wanita yang sedang menjalin komitmen dengan seseorang). Hmm…, dalam hati saya…., ada ya pacar sebaik itu?? Dan setelah melihat kebaikan pacar yg seperti itu, saya nggak habis pikir dengan segala upaya temen saya untuk terang-terangan bercerita ke pacarnya tentang pencarian sang calon suami, :). Lebih tepatnya, tidak hanya bercerita, karena ternyata temen saya dan pacarnya itu sama2 saling mendukung untuk menemukan calon suami dan calon istri bagi mereka masing2…..,:).
----------------------------------------------------------------------------------
“Bantu aku ya….., mau kan?”, pinta saya pada seorang teman. Teman saya tersenyum dan baru menjawab setelah dia memandang sesuatu yang sepertinya jauuuh dimana…., “Aku akan membantumu, kalau kamu memang mau melakukan ini untuk tujuan menikah”. “Iya….., aku mau menikah, tapi tidak sekarang, aku juga sangat menginginkan dia menjadi bagian dari hidupku, tapi aku tidak bisa menikah sekarang……”. “Kenapa tidak bisa?”, tanyanya. “Karena aku harus lulus dan bekerja dulu”, lirih saya katakan, mengingat suatu pesan dari ibu tercinta. Selang waktu berjalan……, kata saya pada teman saya, “Aku semakin takut kehilangan dia, aku mau bilang tentang perasaanku saja”….., teman saya hanya memandang saya tanpa berkata apapun.
----------------------------------------------------------------------------------
“Kurang apa lagi dia untuk jadi istriku, aq belum pernah menemukan akhwat seperti dia. Dia menolak lelaki yang menemui keluarganya hanya untukku. Tapi setelah ada hal seperti ini, restu ibuku yang belum juga kami dapat, kukatakan padanya untuk mencari laki-laki lain, akan kutunggu sampai dia menikah duluan sebelum aq, aq hanya ingin memastikan dia bahagia”.
----------------------------------------------------------------------------------
“Kamu takut kehilangan aq ya?”, tanyanya sambil menggoda saya…., kujawab “Iya…”. “Ridha, aq berkehendak padamu, mungkin kamu juga berkehendak padaku, tapi…, Allah juga punya kehendak”. Cinta yang proporsional, tidak berlebihan, begitulah ia membimbing saya untuk meluruskan persepsi saya tentang cinta. Kata-katanya, matanya saat mengucapkan kata-kata itu…, semuanya…. masih dengan sempurnanya terekam di ingatan saya.
**********************************************************************************
Pada termin terakhir ini, bukan kesimpulan yang tertulis, hanya kata-kata biasa, seperti kata-kata lainnya. Menurut saya, yang penting dalam cinta adalah bagaimana ‘mencintai’, bukan bagaimana ‘dicintai’, so, bersiaplah untuk memberi semua yang terbaik untuk mencapai hal-hal terbaik sebagai wujud mencintai, jangan pikirkan apakah kita juga akan dicintai oleh orang yang kita cintai. Segala sesuatu InsyaAllah ada balasannya kok, jadi, jangan takut untuk berbuat lebih, berbuat baik, percayalah Allah akan membalasnya,:), melalui atau tidak melalui orang yang kita cintai itu.
----------------------------------------------------------------------------------
“Aku bermimpi dia tiga hari berturut-turut, aku jadi khawatir, aku pengin tahu kabar dia, aku bener2 khawatir, apakah dia masih hidup?” kata teman putri saya. Dia melanjutkan “Segala linkq ke dia buntu……, aku ga tahu lagi caraku mengetahui keberadaannya”. Tetapi kemarin, pacarku menemukan jurnal penelitian di tempat kuliah S1nya, dengan nama panjang peneliti persis namanya. “Nah…., itu, kamu bisa menghubungi redaksi jurnal itu, setidaknya, kamu bisa dapetin emailnya”. “Iya ya, kamu benar”. “Tapi buat apa pacarmu membantumu mencari dia?”, Tanya saya. “Dari semua cowok, pacarku merasa, dia adalah saingan terkuatnya. Aku mau menikah tahun ini, tapi aku juga ga tahu dengan siapa aku akan menikah……” (sebuah pernyataan jujur dari seorang wanita yang sedang menjalin komitmen dengan seseorang). Hmm…, dalam hati saya…., ada ya pacar sebaik itu?? Dan setelah melihat kebaikan pacar yg seperti itu, saya nggak habis pikir dengan segala upaya temen saya untuk terang-terangan bercerita ke pacarnya tentang pencarian sang calon suami, :). Lebih tepatnya, tidak hanya bercerita, karena ternyata temen saya dan pacarnya itu sama2 saling mendukung untuk menemukan calon suami dan calon istri bagi mereka masing2…..,:).
----------------------------------------------------------------------------------
“Bantu aku ya….., mau kan?”, pinta saya pada seorang teman. Teman saya tersenyum dan baru menjawab setelah dia memandang sesuatu yang sepertinya jauuuh dimana…., “Aku akan membantumu, kalau kamu memang mau melakukan ini untuk tujuan menikah”. “Iya….., aku mau menikah, tapi tidak sekarang, aku juga sangat menginginkan dia menjadi bagian dari hidupku, tapi aku tidak bisa menikah sekarang……”. “Kenapa tidak bisa?”, tanyanya. “Karena aku harus lulus dan bekerja dulu”, lirih saya katakan, mengingat suatu pesan dari ibu tercinta. Selang waktu berjalan……, kata saya pada teman saya, “Aku semakin takut kehilangan dia, aku mau bilang tentang perasaanku saja”….., teman saya hanya memandang saya tanpa berkata apapun.
----------------------------------------------------------------------------------
“Kurang apa lagi dia untuk jadi istriku, aq belum pernah menemukan akhwat seperti dia. Dia menolak lelaki yang menemui keluarganya hanya untukku. Tapi setelah ada hal seperti ini, restu ibuku yang belum juga kami dapat, kukatakan padanya untuk mencari laki-laki lain, akan kutunggu sampai dia menikah duluan sebelum aq, aq hanya ingin memastikan dia bahagia”.
----------------------------------------------------------------------------------
“Kamu takut kehilangan aq ya?”, tanyanya sambil menggoda saya…., kujawab “Iya…”. “Ridha, aq berkehendak padamu, mungkin kamu juga berkehendak padaku, tapi…, Allah juga punya kehendak”. Cinta yang proporsional, tidak berlebihan, begitulah ia membimbing saya untuk meluruskan persepsi saya tentang cinta. Kata-katanya, matanya saat mengucapkan kata-kata itu…, semuanya…. masih dengan sempurnanya terekam di ingatan saya.
**********************************************************************************
Pada termin terakhir ini, bukan kesimpulan yang tertulis, hanya kata-kata biasa, seperti kata-kata lainnya. Menurut saya, yang penting dalam cinta adalah bagaimana ‘mencintai’, bukan bagaimana ‘dicintai’, so, bersiaplah untuk memberi semua yang terbaik untuk mencapai hal-hal terbaik sebagai wujud mencintai, jangan pikirkan apakah kita juga akan dicintai oleh orang yang kita cintai. Segala sesuatu InsyaAllah ada balasannya kok, jadi, jangan takut untuk berbuat lebih, berbuat baik, percayalah Allah akan membalasnya,:), melalui atau tidak melalui orang yang kita cintai itu.
Senin, 02 November 2009
Vega
R 5667 JC, nomor plat motor vega r biru saya. Huruf di depannya – R – bukan berarti menyesuaikan huruf depan nama saya,:), tapi memang nomor kendaraan untuk daerah tempat tinggal saya (rumah) adalah R. Huruf C di belakang, semakin menunjukkan kalau motor itu adalah motornya orang Purbalingga, berbeda dengan purwokerto (R-A), Cilacap (R-B), atau Banjarnegara (R-D).
Desember 2009 besok, tepat vega biru saya berulang tahun yang kelima. Ah ya…., saya tidak punya nama panggilan khusus untuk motor saya itu, tidak seperti beberapa teman yang memberi nama untuk motor mereka,:). Biasanya…, saya hanya menyebutnya “vega-ku” atau “vega biruku”. Tidak mempunyai nama panggilan khusus bukan berarti saya tidak sayang lo ya sama motor saya itu,:).
Beberapa hal yang membuat saya merasa bersalah pada vega saya adalah: suka telat nyervis, lama ga mencucinya, dan menjatuhkannya. Dua yang pertama, masih saja jadi habit sampai sekarang. Kalau menjatuhkannya? Hmmmm, sepertinya terakhir kali jatuh bersamanya adalah Oktober 2006, tepat 2 hari sebelum ujian skripsi saya,:). Soal jatuh ini, mengingatkan saya pada dua bulan KKN (Juli-Agustus 2005). Dimana saat itu, saya bersama vega biru saya seriiiiiiiiiing sekali jatuh (mungkin teman2 pondokan saya sudah bosan melihat/mengetahui saya jatuh terus, hehe). Padahal, pertama kali saya membawa motor itu ke Yogya, yaitu Januari 2005, sampai bulan Juli, ada sekitar 5,5 bulan pra KKN, yang semestinya, saya sudah cukup mampu untuk bersahabat dengan vega saya (salah satu indikatornya:ga sering jatuh,:)). Tapi ternyata, hmmm, 5,5 bulan belum mampu menempa saya untuk menjadi supir yang baik bagi vega saya. Alasan sederhananya kenapa saya sering jatuh adalah, selama 5,5 bulan awal sebelum KKN, saya sering menjadi pembonceng vega saya, berbeda 180 derajat ketika KKN, yang menuntut saya untuk menjadi supir bagi vega saya. Ditambah dengan medan yang menuju pondokan saya tanahnya memiliki kontur yang sangat tidak rata, membuat saya yang baru awal2 nyetir merasa “cemas”, haha.
Sudah hampir 5 tahun saya ditemani oleh vega saya, apakah saya sudah menjadi pengendara motor yang handal? Haha, ga juga,:). Beberapa teman yang suka saya bonceng masih sangat bisa merasakan ga enaknya hentakan ketika polisi tidur saya tabrak begitu saja (ga pake ngerem,:)). Saya juga tidak mau mengebut. Dibonceng ngebut saja saya kadang suka nutup mata karena takut, apalagi nyetir ngebut, haduuuh, ga kebayang, buat apa si ngebut?? Hehe.
Vega saya merupakan sahabat yang setia mengantar saya berkeliling Yogya berjam-jam ketika saya merasa “sedang bermasalah”. Ya…, melupakan sejenak aktivitas-aktivitas apapun dengan mengitari Yogya tanpa tujuan yang jelas merupakan cara saya untuk beradaptasi dengan masalah. Maka vega saya merupakan teman bicara terbaik saya setelah Allah. Dia diam saja ketika saya bernyanyi saat saya mengendarainya. Dia juga tetap diam ketika saya menangis dalam posisi saya sedang nyetir. Dia juga tidak mengingatkan saya kalau saya mengendarainya sambil melamun. Diamnya itu saya artikan bahwa dia hanya akan mendengarkan saya, tidak mau memberikan nasihat, apalagi penghakiman. Dia membiarkan saya menemukan insight sendiri atas segala sesuatunya. (Vega, setelah Allah, yang tak pernah meninggalkan).
Desember 2009 besok, tepat vega biru saya berulang tahun yang kelima. Ah ya…., saya tidak punya nama panggilan khusus untuk motor saya itu, tidak seperti beberapa teman yang memberi nama untuk motor mereka,:). Biasanya…, saya hanya menyebutnya “vega-ku” atau “vega biruku”. Tidak mempunyai nama panggilan khusus bukan berarti saya tidak sayang lo ya sama motor saya itu,:).
Beberapa hal yang membuat saya merasa bersalah pada vega saya adalah: suka telat nyervis, lama ga mencucinya, dan menjatuhkannya. Dua yang pertama, masih saja jadi habit sampai sekarang. Kalau menjatuhkannya? Hmmmm, sepertinya terakhir kali jatuh bersamanya adalah Oktober 2006, tepat 2 hari sebelum ujian skripsi saya,:). Soal jatuh ini, mengingatkan saya pada dua bulan KKN (Juli-Agustus 2005). Dimana saat itu, saya bersama vega biru saya seriiiiiiiiiing sekali jatuh (mungkin teman2 pondokan saya sudah bosan melihat/mengetahui saya jatuh terus, hehe). Padahal, pertama kali saya membawa motor itu ke Yogya, yaitu Januari 2005, sampai bulan Juli, ada sekitar 5,5 bulan pra KKN, yang semestinya, saya sudah cukup mampu untuk bersahabat dengan vega saya (salah satu indikatornya:ga sering jatuh,:)). Tapi ternyata, hmmm, 5,5 bulan belum mampu menempa saya untuk menjadi supir yang baik bagi vega saya. Alasan sederhananya kenapa saya sering jatuh adalah, selama 5,5 bulan awal sebelum KKN, saya sering menjadi pembonceng vega saya, berbeda 180 derajat ketika KKN, yang menuntut saya untuk menjadi supir bagi vega saya. Ditambah dengan medan yang menuju pondokan saya tanahnya memiliki kontur yang sangat tidak rata, membuat saya yang baru awal2 nyetir merasa “cemas”, haha.
Sudah hampir 5 tahun saya ditemani oleh vega saya, apakah saya sudah menjadi pengendara motor yang handal? Haha, ga juga,:). Beberapa teman yang suka saya bonceng masih sangat bisa merasakan ga enaknya hentakan ketika polisi tidur saya tabrak begitu saja (ga pake ngerem,:)). Saya juga tidak mau mengebut. Dibonceng ngebut saja saya kadang suka nutup mata karena takut, apalagi nyetir ngebut, haduuuh, ga kebayang, buat apa si ngebut?? Hehe.
Vega saya merupakan sahabat yang setia mengantar saya berkeliling Yogya berjam-jam ketika saya merasa “sedang bermasalah”. Ya…, melupakan sejenak aktivitas-aktivitas apapun dengan mengitari Yogya tanpa tujuan yang jelas merupakan cara saya untuk beradaptasi dengan masalah. Maka vega saya merupakan teman bicara terbaik saya setelah Allah. Dia diam saja ketika saya bernyanyi saat saya mengendarainya. Dia juga tetap diam ketika saya menangis dalam posisi saya sedang nyetir. Dia juga tidak mengingatkan saya kalau saya mengendarainya sambil melamun. Diamnya itu saya artikan bahwa dia hanya akan mendengarkan saya, tidak mau memberikan nasihat, apalagi penghakiman. Dia membiarkan saya menemukan insight sendiri atas segala sesuatunya. (Vega, setelah Allah, yang tak pernah meninggalkan).
Minggu, 01 November 2009
Pagi
Pagi......., itu adalah kata pertama yang saya ucapkan dalam hati saya, pagi tadi, saat saya terbangun lebih telat dari pagi-pagi biasanya. Pagi juga merupakan waktu terbaik bagi diri saya untuk melakukan apapun.
Untuk pagi-pagi yang akan datang, saya berharap matahari akan senantiasa memberikan kehangatan bagi siapapun...... (Pagi dengan blog baru,^_^)
Untuk pagi-pagi yang akan datang, saya berharap matahari akan senantiasa memberikan kehangatan bagi siapapun...... (Pagi dengan blog baru,^_^)
Langganan:
Postingan (Atom)